PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Dunia siber kembali diguncang oleh serangan Distributed Denial of Service (DDoS) terbesar dalam sejarah.
Serangan masif ini menghasilkan lalu lintas data sebesar 37,4 terabyte hanya dalam 45 detik, namun berhasil digagalkan oleh raksasa keamanan internet Cloudflare.
Baca Juga: BPBD DKI Peringatkan Banjir Rob hingga 29 Juni, Ancol dan Sejumlah Wilayah Pesisir Terancam
Dalam pernyataan resminya, Cloudflare menyebut serangan itu menargetkan satu alamat IP dengan trafik berbahaya yang mencapai 7,3 terabit per detik (Tbps)—setara dengan mengirim 9.000 film HD dalam waktu kurang dari semenit.
“Angka 37,4 TB mungkin terlihat biasa, namun kecepatan dan intensitas pengiriman data membuatnya mencengangkan,” tulis Cloudflare dalam blog resminya, dikutip Minggu, 22 Juni 2025.
Baca Juga: Penjualan Paket Wisata 3B Mulai Naik, Wamenpar Optimistis Pariwisata Bali Lebih Merata
Teknik Serangan: UDP dan Refleksi
Pelaku memanfaatkan User Datagram Protocol (UDP) sebagai vektor utama.
UDP sering digunakan pada aplikasi real-time seperti streaming, game online, dan konferensi video karena tidak memerlukan verifikasi dua arah (handshake) seperti TCP.
Kelebihan ini dieksploitasi pelaku untuk membanjiri target dengan data dalam jumlah besar secara simultan—dikenal sebagai UDP flood.
Selain itu, pelaku juga menggunakan teknik refleksi, dengan memalsukan alamat IP korban lalu mengirim permintaan ke server pihak ketiga seperti NTP (Network Time Protocol), QOTD, atau Echo.
Server-server ini kemudian membalas ke IP korban, menyebabkan banjir data dari berbagai arah.
Meski skalanya ekstrem, Cloudflare memastikan tidak ada kerusakan berarti, karena sistem mitigasi otomatis mereka mampu menyaring dan menghentikan seluruh arus trafik berbahaya secara real-time.
Serangan ini menjadi pengingat akan pentingnya infrastruktur keamanan digital yang tangguh di tengah meningkatnya ancaman dunia maya. ***