Namun, ironisnya, Piala Inter-Cities Fairs saat itu tidak diselenggarakan oleh UEFA, sehingga sebagai konsekuensinya, UEFA tidak menganggap catatan juara klub-klub dalam Piala Inter-Cities Fairs, termasuk AS Roma, sebagai bagian dari catatan prestasi Eropa mereka.
Gelar Pertama dan Pasang Surut
Pada era ini, AS Roma mengalami pasang surut dalam performa mereka.
Setelah beberapa penurunan performa dalam pertandingan liga dan kepergian sejumlah pemain kunci, Roma memulai proses membangun kembali skuat mereka.
Pergantian ini melibatkan penambahan Enrique Guaita, yang merupakan Top Scorer asal Argentina, ke dalam tim.
Di bawah asuhan Pelatih Luigi Barbesino, AS Roma berhasil meraih gelar pertama mereka pada musim 1935-1936.
Mereka menyelesaikan musim hanya selisih satu poin di bawah juara pertama, Bologna.
Roma kemudian kembali mencapai performa terbaik mereka setelah mengalami ketidakstabilan dalam beberapa musim terakhir.
Kemenangan mengejutkan diraih di musim 1941-1942, ketika Roma berhasil meraih Scudetto.
Pencapaian tersebut menjadi bersejarah dan memperoleh kontribusi penting dari pemain lokal Amedeo Amadei yang mencetak delapan belas gol.
Selama periode ini, Pelatih Alfred Schaffer memainkan peran utama dalam membimbing tim menuju kesuksesan, meskipun Roma harus bermain di stadion Partito Nazionale del Fascista pada masa Italia terlibat dalam Perang Dunia II.
Namun, setelah perang berakhir, Roma mengalami kesulitan dalam merebut kembali gelar Serie A.
Klub ini bahkan harus menyelesaikan musim di papan bawah Serie A selama lima musim berturut-turut, sehingga mereka terdegradasi ke Serie B pada akhir musim 1950-1951.
Ini terjadi sekitar satu dekade setelah mereka meraih kemenangan Scudetto pertama.