sosok

Nama Yayasan Amkur di Sambas, Diusulkan Anak Karyawan di Hadapan Uskup Mgr Herkulanus van Den Berg OFM Cap

Rabu, 21 September 2022 | 07:10 WIB
Tet Luk atau dikenal juga sebagai Yosep Sartomo Musino SAg atau biasa dipanggil Yossart. (Pontianak Globe)

Jadi keringat kerja keras kami, khususnya pengorbanan bapak dan umak (ibu, ed) yang cuma tukar makan tanpa bayaran dengan suster,  karena sejak tinggal dengan suster tahun 1959 hingga tahun 1968 kami tidak diizinkan masak sendiri.

Sehari 3 kali kami harus ke dapur suster ambil ransum yang jatahnya pas sepiring seorang. Hingga saya dan kakak, dan juga adik tiap hari harus nahan lapar sebab kerja berat bantu orangtua gergaji atau potong batang pohon kemudian dibelah jadi kayu bakar untuk di dapur suster dan asrama.

Kayu-kayu itu kami giring sepotong demi sepotong ke dapur suster untuk kemudian ada pak Suja dan umak membelahnya di situ.

Akar pohon atau tunggul karet sebesar drum tiap hari, bulan, sampai bertahun tahun harus kami gali sebelum dan selama pembangunan mulai dibangun.

Kami juga ikut bantu menimbun dan meratakan tanah kuning yang diangkut dari tongkang orang Madura. Kami membantu ayak campuran pasir dan semen usai pulang sekolah.

Kami bersyukur sebab kami semua disekolahkan oleh suster. Sebagai ganti usai sekolah kami harus kerja membantu pekerjaan bapak ibu di rumah suster atau bantu tukang. Pekrjaan kami kadang nebas, antar sayur dan lain-lain ke susteran.

Kami juga bantu di gereja dan pastoran, bantu pak Asiong merumput atau bersihkan parit samping dekat rumah sakit.

Karena nasi cuma sepiring seorang, kami masih merasa lapar. Tiap hari kami melahap sisa nasi atau bubur, kulit timun, dan kerak nasi yang diangkut dari dapur rumah sakit, susteran, dan asrama demi mengganjal perut, agar tetap kuat untuk kerja seharian bantu orangtua.

Pada tahun 1969, kami sudah diberi kebebasan masak sendiri. Bapak dan ibu, sudah diberi upah kerja ala kadarnya, yaitu 50 sen perminggu buat belanja tembakau dan gula kopi.

Tiap pagi sebelum sekolah kami harus bawakan suster jentik nyamuk untuk ikan hias di susteran. Sebagian jentik nyamuk itu kami jual ke orang pasar seharga 1 ketip. Uang segitu lumayan buat beli jajan atau beli pensil.

Begitu sebagian kecil atau secuil kurban yang dimaksud pada Amkur. Amalnya dari donatur, kurban adalah cucuran keringat atau peluh dan kerja keras kami anak beranak dalam membangun dan mewujudkan tata ruang persekolahan Yayasan Amkur Sambas.

Yayasan Amkur kemudian membuka cabangnya di Pemangkat dan Sekura yang memang murni pembangunannya berasal dari swadaya donatur/amal/budi mulia dari para orangtua siswa.

Yang jelas di balik nama besar Amkur ada kisah sedih dan derita yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata yg menjadi dasar berdirinya persekolahan dan Yayasan Amkur ini.

 

Teladani Orangtua

Halaman:

Tags

Terkini