Kemudian tahun 1960 awal, kami dipindahkan lagi ke rumah kecil – sekarang halaman gedung serbaguna Paroki Sambas --Iibu disuruh suster menanam sayur dan ternak ayam, bebek, kelinci, dan babi.
Semua itu untuk keperluan dapur asrama dan susteran. Pada tahun 1963 kami sekeluarga dipindahkan lagi ke depan Susteran Novisiat di samping rumah mantri Simon Budi (alm). Sekarang bangunan itu menjadi parkiran dan gedung pentas SMP Amkur.
Mulai saat itu bapak dan kami disuruh tebas tebang hutan karet untuk membangun gedung SD yang baru dan lapangan bola.
Tahun 1964 kami dihadiahkan sebidang tanah depan kuburan seluas 40x40 m atau sekira 160 M² dan dibuatkan rumah. Tahun 1964, usia saya 10 tahun dan kelas 4 SD.
Ibu guru saya waktu itu, Sie Jam Cong. Saat itu beliau masih single. Beberapa waktu kemudian menikah dengan Pak Thomas Hie Sie Sian atau Pak Thomas Surya Kosasih.
Ketika pindah rumah diberkati Uskup Pontianak Mgr Herkulanus van Den Berg OFM Cap. Dihadiri pula Muder Cypriana, Sr Aquina, Sr Yosefo, Sr Serena, Sr Livina, Sr Eufrosina, Muder Yoanette, Sr Auxilia, Sr Elisabeth.
Saat itu mereka berembuk di rumah baru kami. Ada pun yang dirembukkan adalah apa nama yang paling baik untuk SD dan yayasan yang baru ini?
Mereka usul antara lain Budi Mulia, Amal Mulia. Saya ikut mendengarkan. Langsung saya bicara, “Saya gak sertuju.”
Dan langsung saya bilang, “Saya usul bagus namanya Amal dan Kurban saja. Sebab kalau Amal Mulia, kerja keras kami di mana? Kami yang kerja berat, kurban kami harus ada masuk, suster.”
Muder Cypriana, Sr Aquina, Sr Yosefo, Muder Yoanette dan Pastor Adelhelmus yang mendampingi Bapa Uskup kontan acung jempol.
“Bagus itu cocok, setuju. Kita singkat saja jadi Amkur,” Bapa Uskup pun mengiyakan.
Kemudian ditetapkanlah yayasan yang menaungi SD Suster yang baru adalah Yayasan Amkur. Hari itu juga disusunlah kepengurusannya.
SD baru itupun bernama SD Katolik Besubsidi Amkur. Itulah kisah terbitnya nama Yayasan Amkur. Namun, saya dimarahi bapak karena lancang campuri omongan orangtua. Saya kena rotan abis-abisan sesudah para tamu pulang. Saya sangat sedih, menangis di kamar, oleh oramgtua saya dihukum tidak boleh makan hingga esok paginya.
Dirampok Pulang Nyuluh Ikan