Laporan mengatakan hingga 3.000 penonton telah turun ke lapangan, dari kerumunan 40.000. Polisi mengatakan 13 kendaraan rusak, termasuk 10 mobil polisi.
Gambar yang diambil dari dalam stadion selama penyerbuan menunjukkan sejumlah besar gas air mata dan orang-orang memanjat pagar. Orang-orang membawa penonton yang terluka melalui kekacauan.
Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan orang-orang meneriakkan kata-kata kotor kepada polisi yang memegang perisai anti huru hara.
Kendaraan yang dibakar, termasuk truk polisi, berserakan di jalan-jalan di luar stadion pada Minggu pagi.
Pemerintah Indonesia meminta maaf atas bencana tersebut dan berjanji untuk menyelidiki keadaannya.
"Kami mohon maaf atas kejadian ini... ini adalah insiden yang disesalkan yang 'melukai' sepak bola kami pada saat para pendukung dapat menonton pertandingan sepak bola dari stadion," kata Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali, di satu siaran televisi swasta.
“Kami akan mengevaluasi secara menyeluruh penyelenggaraan pertandingan dan kehadiran suporter. Akankah kami kembali melarang pendukung menghadiri pertandingan? Itu yang akan kita bahas.”
Kekerasan penggemar adalah masalah abadi di Indonesia, di mana persaingan yang mendalam sebelumnya telah berubah menjadi konfrontasi mematikan.
Di tengah persaingan lama antara Persebaya Surabaya dan Arema FC, suporter Persebaya Surabaya dilarang membeli tiket pertandingan karena khawatir akan terjadi kekerasan.
Mahfud MD mengatakan, penyelenggara mengabaikan rekomendasi pihak berwenang untuk menggelar pertandingan pada sore hari, bukan pada malam hari.
"Olahraga ini ... sering memancing pendukung untuk mengekspresikan emosi secara tiba-tiba," katanya di Instagram.
“Kami prihatin dan sangat menyayangkan kejadian ini,” kata Akhmad Hadian Lukita, Presiden Direktur PT Liga Indonesia Baru. “Kami turut berduka cita dan semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.”
Persatuan sepak bola Indonesia (PSSI) mengatakan akan menyelidiki apa yang terjadi.