Membangkitkan Kesadaran Kultural
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam acara itu betapa Aan Baget sangat berkomitmen untuk menggunakan musik sebagai alat untuk menyuarakan kritik sosial dan budaya. Melalui lirik-lirik yang penuh dengan satir dan sindiran, Aan Baget berusaha memberikan refleksi atas masalah-masalah yang ada dalam kehidupan masyarakat, baik itu tentang tradisi yang terlupakan, isu sosial, ataupun kesadaran lingkungan.
Lirik-lirik dalam mini album ini tidak hanya sekadar menghibur, tetapi juga mengajak para pendengar untuk merenung dan membuka mata terhadap isu-isu yang selama ini terabaikan.
Salah satu contoh yang cukup menarik adalah lagu “Bangok,” yang menyampaikan sindiran tajam terhadap fenomena sosial tertentu dengan cara yang halus namun penuh makna.
Bagi mereka yang tidak memahami konteks budaya Dayak, lagu ini bisa jadi terasa kontroversial, tetapi bagi masyarakat Dayak, ini adalah bentuk ekspresi yang sangat relevan dan sesuai dengan realita yang mereka hadapi.
Aan Baget sendiri mengungkapkan bahwa musik merupakan media yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
“Melalui musik, saya ingin orang-orang tidak hanya menikmati irama, tetapi juga merenungkan pesan yang ada di dalam liriknya. Musik Dayak bukan hanya tentang irama dan suara, tetapi juga tentang identitas kita, budaya kita, dan pesan-pesan sosial yang ingin kita sampaikan,” kata Aan Baget (15/03/2025).
Dia juga mengatakan bahwa ini kali pertamanya dilakukan launching resmi se-tanah Borneo terlebih bagi mereka yang ‘menyandang’ status ‘artis’ Dayak. Dia berterima kasih Weng Coffie Pontianak menyediakan panggung untuk membuat acara launching mini albumnya dan tampaknya ini baru satu-satunya kegiatan yang dilakukan oleh pengiat musik sastra Dayak.
Menyatukan Generasi Muda
Dalam acara peluncuran mini album ini, terlihat jelas semangat untuk melestarikan budaya Dayak yang juga disampaikan kepada generasi muda. Di tengah dominasi musik modern yang seringkali meninggalkan nilai-nilai tradisional, Aan Baget bersama dengan manajemen Kakondan Studio berusaha untuk menjaga agar musik Dayak tetap hidup dan berkembang.
Salah satu bentuk dukungannya adalah dengan memberikan kesempatan kepada artis Dayak generasi muda untuk turut tampil dan menunjukkan bahwa mereka siap untuk meneruskan tongkat estafet seni budaya Dayak.
Selain itu, acara ini juga menunjukkan bahwa musik Dayak mampu menembus batas wilayah dan dikenal lebih luas. Kehadiran ratusan anak muda di Weng Coffee menunjukkan bahwa musik Dayak kini mulai mendapatkan tempat di hati generasi milenial dan generasi Z, yang sebelumnya mungkin tidak terlalu familiar dengan alunan sastra musik tradisional itu.
Aan Baget dan Syentia berharap, dengan acara ini, mereka bisa menginspirasi para musisi muda untuk terus berkarya dan memperkenalkan kekayaan budaya mereka kepada dunia.
Artikel Terkait
Pevita Pearce Tetap Bolak-balik Jakarta dan Bali Meski Menikah dengan Pengusaha Malaysia, Ternyata Ini Alasannya
Beda dari Surat Wamil, Agensi Kim Soo-hyun Benarkan Postcard Paris Ditulis Saat Sudah Berpacaran dengan Mendiang Kim Sae-ron
Baru Menjabat, Ifan Seventeen Langsung Kena Sidak DPR di PFN
Heboh! Rekaman Suara Diduga Baim Wong Marahi Paula Verhoeven Beredar di Media Sosial, Begini Suara Rekamannya
Diragukan Pimpin PFN, Ifan Seventeen Angkat Bicara, Sang Istri Beri Dukungan
Pakar Ingatkan Baim Wong agar Tidak Melemahkan Paula Verhoeven dalam Sidang Hak Asuh Anak