Satir dan Syair, Launching Mini Album Aan Baget Kalimantan

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Minggu, 16 Maret 2025 | 21:02 WIB
Aan Baget
Aan Baget

Sejumlah penggemar, penggiat musik, serta orang muda, baik di Pontianak dan orang muda luar daerah datang berbondong-bondong untuk menikmati penampilan dari musisi yang telah lama berkecimpung dalam dunia musik Dayak itu.

Terlebih lagi, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan penampilan istri Aan Baget, Syentia, seorang artis Dayak yang juga turut menyemarakkan acara tersebut dengan lagu-lagu khas Dayak Kanayatn.

Melalui mini album Aan Baget menunjukkan dengan jelas bahwa lagu-lagu Dayak dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensi dari identitas budaya itu sendiri.

Lagu-lagu dalam mini album ini tidak hanya menggambarkan kehidupan sehari-hari orang Dayak, tetapi juga mengangkat tema-tema sosial dan budaya yang relevan untuk seluruh lapisan masyarakat.

Salah satu lagu yang paling mencuri perhatian adalah “Nape Gajian”, “Bangok”, “Sorry Adi’a”, “Padi Poe’”, dan “Sunsakng Cagat” yang berbicara tentang ‘manisfestasi’ renungan masyarakat kehidupan sehari-hari dengan sentuhan humor terutama kedekatan lirik dengan keseharian pendengar.

Selain itu, lagu-lagu lainnya seperti “Bangok,” yang selama ini banyak menjadi kontroversi di dunia Media Sosial ‘Tiktok’. Aan Baget menilai bahwa lagu tersebut merupakan satir, humor yang tak terlepas di-keakraban persahabatan maupun dapat menjadi sindiran untuk konteks tertentu.

Sari Basule, Eva Belisima
Sari Basule, Eva Belisima

Energi yang Menyatu dengan Musik

Tak hanya Aan Baget yang memikat perhatian penonton, tetapi juga kehadiran Syentia, sang istri yang tidak kalah berbakat.

Dia, yang dikenal sebagai salah satu artis Dayak, turut meramaikan acara dengan penampilan vokal yang penuh penghayatan. Syentia membawakan beberapa lagu yang mampu membuat suasana semakin hangat dan emosional. Keberadaan dia bukan hanya sebagai pendamping Aan Baget, tetapi juga sebagai kolaborator dalam memajukan musik Dayak.

Dalam setiap penampilannya, berhasil menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam lirik-lirik lagu Dayak dengan cara yang menyentuh hati para penonton.

Syentia sendiri mengungkapkan bahwa keberadaannya dalam dunia musik Dayak bukan hanya sekadar untuk tampil, tetapi juga untuk memperkenalkan budaya Dayak kepada generasi muda, dan melalui acara ini, mereka ingin memberikan motivasi bahwa setiap orang bisa berkarya, tidak peduli dari latar belakang mana pun.

Dalam wawancara setelah acara, Syentia mengatakan musik adalah bahasa universal yang bisa menyatukan setiap pendengarnya. Dia ingin menunjukkan bahwa musik Dayak itu tidak hanya milik Kalimantan, tetapi bisa dinikmati di seluruh Indonesia bahkan internasional.

Dalam kehidupan sehari-hari juga Syentia menganggap bahwa sikap dan perilaku untuk terbuka dengan masyarakat menjadi nilai pokok dan yang paling utama. Karena baginya, artis akan disebut artis jika ada yang menghargai dan mendengarkan musik mereka.

“Tanpa masyarakat, kami bukanlah apa-apa. Kami disebut artis karena mereka yang mengenal kami sebagai penyanyi Dayak, oleh karena itu jika berhadapan dengan masyarat kami sangat membuka diri untuk saling menghargai sebagaimana mestinya berinteraksi seperti biasa pada masyarakat,” kata Syentia dalam wawancara (15/03/2025).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Sumber: Majalah DUTA

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X