PONTIANAKGLOBE.COM -- Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa seminggu memiliki 7 hari?
Di balik sistem kalender yang kita gunakan saat ini, terdapat sejarah panjang dan menarik.
Baca Juga: Via Vallen Tebar Kebahagiaan di Kampung Halaman dengan Bagi-bagi Sembako Jelang Lebaran
Mari kita telusuri asal-usul sistem 7 hari dalam seminggu.
Peran Bangsa Babilonia
Konsep 7 hari dalam seminggu diyakini berasal dari peradaban Babilonia kuno, sekitar abad ke-6 Sebelum Masehi.
Bangsa Babilonia dikenal sebagai pengamat langit yang cerdik.
Mereka mengamati tujuh benda langit yang mereka anggap penting: Matahari, Bulan, Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus.
Berdasarkan pengamatan ini, mereka membagi siklus bulan menjadi empat fase, dan setiap fase dibagi menjadi tujuh hari.
Hal ini menghasilkan sistem kalender dengan 7 hari dalam seminggu.
Pengaruh Romawi dan Konstantinus Agung
Sistem 7 hari dari Babilonia kemudian diadopsi oleh bangsa Romawi.
Nama-nama hari dalam seminggu dalam bahasa Indonesia, seperti Minggu, Senin, Selasa, dan Rabu, berasal dari bahasa Latin dan terhubung dengan dewa-dewi Romawi.
Pada tahun 321 Masehi, Kaisar Konstantinus Agung secara resmi menetapkan sistem 7 hari dalam seminggu sebagai kalender resmi Romawi.
Ia juga menjadikan hari Minggu sebagai hari libur untuk menghormati hari kebangkitan Yesus Kristus dalam agama Kristen.