PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Perubahan iklim tidak lagi menjadi isu masa depan.
Dampaknya kini dirasakan di berbagai belahan dunia, mulai dari cuaca ekstrem, kebakaran hutan, banjir, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan dan energi.
Di tengah tantangan tersebut, Indonesia menetapkan target ambisius untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Target ini bukan sekadar komitmen lingkungan, melainkan bagian dari transformasi besar yang akan menentukan arah pembangunan ekonomi nasional dalam beberapa dekade mendatang.
Mewujudkan target tersebut tentu bukan pekerjaan mudah.
Dibutuhkan perubahan mendasar pada sektor energi, industri, pertanian, hingga pengelolaan sumber daya alam.
Dalam proses transformasi itu, berbagai mitra pembangunan internasional turut mengambil peran, salah satunya adalah Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), lembaga kerja sama pembangunan milik Pemerintah Jerman.
Melalui berbagai program yang dijalankan bersama pemerintah Indonesia, GIZ berupaya mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon dengan mengintegrasikan penguatan kebijakan, transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga dukungan pembiayaan hijau.
Lebih dari Sekadar Energi
Banyak orang menganggap dekarbonisasi hanya berkaitan dengan pengurangan penggunaan batu bara atau pengembangan energi terbarukan. Padahal, tantangan yang dihadapi jauh lebih luas.
Karena itu, portofolio kerja sama GIZ di Indonesia dirancang secara multisektoral.
Baca Juga: Menjaga Hutan, Meningkatkan Kesejahteraan, Harapan dari Proyek SAFE di Kalimantan Barat
Bersama Bappenas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta berbagai mitra lainnya, GIZ mendorong transformasi yang menyentuh berbagai sektor strategis.
Di bidang ekonomi, misalnya, GIZ mendukung pengembangan ekonomi sirkular dan industri hijau melalui kerja sama dengan Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (EKONID).