Tidak mudah untuk menjadi unggul, diperlukan prosese sangat panjang, menempel luka dari bekas goresan dengan rasa pedih bertahan butuh kesabaran dan pengorbanan, hasil adalah suatu bonus dari keindahan hanya dapat diukur dan dilihat mata yang dirasakan nilai moral terbawa emosional.
Terlahirnya prestasi bukan karena dari manipulasi instan doping ketidak jujuran, melainkan suatu usaha dengan tekat sekeras baja. Ia tak rupawan dinilai dari fisik tetapi konsisten dari prestasi dinilai oleh rasa hormat, menjadikan pesona secara etis, bahkan menjadi teladan dan inspirasi suatu makna kemenangan. Akan muncul ucapan kata menawan dalam melewati batas estetika visual.
Kejujuran adalah sebuah pencapaian yang dapat menjadi inspirasi bagi kebanyakan orang, bahkan bagi mereka yang belum pernah bertemu secara langsung. Menghadirkan kemenangan lebih luas, dari rasa malas, mengalahkan keraguan diri, pada godaan untuk melakukan kecurangan.
Suatu sadar terucapan makna menawan, bukan atas pujian yang kosong, melalui pengakuan lahiriah pada rasa kagum terlalu dalam, melampaui batas estetika visual, karena dipuji bukan sebab tentang rupa, hal ini tentang nilai, bukan mengenai tampilan, melainkan proses perjuangan. Inilah perhargaan keindahan dari prestasi sesungguhnya hanya terdiam, kejujuran, dan kebermaknaan.
Olahraga dalam dunia pendidikan, merupakan gagasan yang bernilai penting pada proses penanaman terhadap atlet muda terkini. Selain itu olahraga tidak harus membentuk seorang individu haus pada pencitraan dan hasil kemenangan, tetapi membentuk manusia tangguh, memiliki karakter dan penuh kebermaknaan.
Bagaimana juga prestasi adalah tujuan paling utama, tetapi tidak diposisikan terhadap proses pembentukan individu, membutuhkan orang lain bukan diri sendiri.
Menawan tak rupawan tapi prestasi, mungkin sedikit agak puitis bermakna filosofis. Penegasan terhadap keindahan sejati berkaitan olahraga terletak pada latihan, prestasi dan nilai dalam ketercapaian rasa kemanusiaan. Seakan akan dunia ini hanya melihat apa yang tampak didepan, justru olahraga memiliki pontensi bahawa atlet menawan tidak terlihat dengan mata.
Olahraga sebagai pembentukan jiwa dari berbagai pertunjukan fisik diarena. Bagaimana atlet diuji dengan kesabarannya, mengontrol rasa ego, dan melatih kekuatan otot. Atlet yang menawan sebenarnya mampu berdamai melalui proses dengan diri sendiri.
Setia dengan latihan walaupun tanpa adanya dukungan tepuk tangan. Kerendahan hati mungkin disaat menang dan selalu siap menerima kekalahan. Mungkin kemilau cahaya tidak berkilau di permukaan, tetapi sinar selalu terang dan konsisten terus berjuang.
*Jayadi adalah Dosen PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).