pontianak-insights

SBY Bicara Terus Terang soal Ancaman Perang Dunia III dan Geopolitik yang Kian Panas

Sabtu, 24 Januari 2026 | 10:14 WIB
Menyoroti poin-poin penting dalam penuturan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ihwal Perang Dunia III. (Dok. YouTube.com / Susilo Bambang Yudhoyono)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan kekhawatirannya terhadap perkembangan geopolitik global dalam tiga bulan terakhir yang dinilainya kian mengkhawatirkan. SBY bahkan menyebut adanya potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga.

Kekhawatiran tersebut disampaikan SBY melalui akun X pribadinya, @SBYudhoyono, pada Jumat (23/1/2026). Ia mengaku terus mengikuti dinamika internasional dalam beberapa tahun terakhir, terutama eskalasi konflik global yang belakangan semakin intens.

“3 tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir,” tulis SBY.

Baca Juga: IFG Tegaskan Tata Kelola Kuat Jadi Fondasi Customer Centricity di Industri Asuransi

Sebagai tokoh yang telah puluhan tahun mendalami isu geopolitik, perdamaian, dan keamanan internasional, SBY mengaku tidak bisa menepis rasa cemas terhadap arah dunia saat ini.

“Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir,” imbuhnya.

SBY menyebut kecemasan tersebut berangkat dari kemungkinan terjadinya prahara besar di tingkat global, yang menurutnya bisa berujung pada Perang Dunia Ketiga.

“Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” ungkap SBY.

Menurut SBY, konflik-konflik yang saat ini berlangsung di berbagai belahan dunia berpotensi berkembang menjadi perang global. Ia menilai, pola yang terlihat memiliki kemiripan dengan kondisi dunia menjelang pecahnya Perang Dunia Pertama dan Kedua.

“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah,” terangnya.

“Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini,” lanjutnya.

Baca Juga: Ramai Soal Gaji Guru, Ferry Irwandi Sebut Salah Sasaran Jika Menyalahkan Mendikbud

Dalam analisisnya, SBY juga menyoroti munculnya pemimpin-pemimpin kuat di sejumlah negara yang dinilai memiliki kecenderungan agresif. Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi salah satu sinyal mengkhawatirkan dalam konstelasi global saat ini.

“Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan,” kata SBY.

“Pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas,” tambahnya.

Halaman:

Tags

Terkini