pontianak-insights

Kebodohan Tidak Terletak pada Ketidaktahuan

Sabtu, 3 Januari 2026 | 11:54 WIB
Lukisan Tradisional Cina Seorang Pria Tua Duduk di Awan, Sumber: https://idn.freepik.com/

PONTIANAKGLOBE.COM | Dalam banyak ruang—kelas, kantor, forum publik, bahkan percakapan sehari-hari—diam sering disalahartikan sebagai tanda kecerdasan. Orang yang banyak bertanya kerap dicurigai tidak paham, sementara mereka yang tenang dan tidak bersuara dianggap sudah mengerti.

Budaya semacam ini perlahan menumbuhkan ketakutan, mungkin saja takut terlihat bodoh, takut salah bicara, takut harga diri runtuh hanya karena sebuah pertanyaan. Maka kebingungan pun dipelihara diam-diam, seolah ia bisa lenyap dengan sendirinya.

Saya memulai naskah ini dengan satu pepatah Tiongkok kuno, bunyinya demikian, “Dia yang bertanya akan terlihat bodoh 5 menit, sedangkan dia yang tidak bertanya akan bodoh selamanya.”

Padahal sejatinya kebodohan tidak terletak pada ketidaktahuan, anggapannya bahwa tidak ada manusia yang lahir dengan pengetahuan lengkap. Kebodohan justru bermula ketika seseorang menolak mencari tahu. Ketika rasa ingin tahu dikalahkan oleh gengsi dan pertanyaan dibungkam demi citra diri, saat itulah ketidaktahuan berubah menjadi sikap. Diam yang dipelihara terlalu lama tidak lagi netral, artinya ia mengendap menjadi kesalahan yang berulang, keputusan yang keliru, dan pemahaman yang dangkal.

Bertanya memang bukan tindakan yang sepenuhnya nyaman, kadang ada momen rapuh di sana. Ada juga risiko dianggap tidak cakap, tidak siap, atau tidak sepintar yang selama ini ditampilkan.

Namun rasa malu yang muncul tersebut sebenarnya sangat singkat. Ia hanya berlangsung beberapa detik, mungkin beberapa menit, sementara jawaban yang diperoleh dari sebuah pertanyaan bisa menjadi bekal seumur hidup. Dalam timbangan yang jujur itulah rasa malu sesaat jelas lebih ringan daripada kebingungan yang berkepanjangan.

Ada ungkapan lain yang berbunyi demikian, “ mereka yang berbuat salah justru tahu yang benar seperti apa, daripada mereka yang binggung – dengan jelas menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti dan tidak tahu apa-apa.”

Keberanian untuk bertanya adalah tanda kedewasaan intelektual, sebagaimana tradisi filsafat. Bagi anda yang pernah mengenyam mata kuliah pengantar Filsafat – selalu ada pernyataan tentang sikap seperti seorang anak kecil yang memiliki rasa ingin tahu dan terus-menerus demikian.

Sikap itu justru menunjukkan bahwa seseorang lebih menghargai pertumbuhan dirinya daripada penilaian orang lain baik disadari ataupun tidak disadarinya.

Setelah dewasa kesadaran untuk bertanya, adalah sikap seseorang yang mengakui keterbatasannya dan pengakuan semacam itu merupakan fondasi dari pembelajaran sejati. Tidak ada ilmu yang tumbuh dari kepura-puraan tahu bahkan semua pengetahuan besar lahir dari keberanian mengakui, “Saya belum mengerti.”

Sebaliknya, orang yang tidak pernah bertanya sering merasa dirinya aman. Mungkin ia tampak tenang, tidak terusik, dan seolah menguasai situasi tetapi ketenangan itu kerap menipu. Bahkan ia bisa jadi hanyalah ilusi tahu, tanpa pertanyaan, pemahaman tidak pernah diuji.

Tanpa adanya dialog maka kesalahan tidak pernah dikoreksi, akibatnya seseorang bisa berjalan lama bahkan bertahun-tahun tanpa benar-benar bergerak maju—sekadar berputar di tempat yang sama dengan keyakinan palsu.

Dalam hidup, harga dari ketidaktahuan sering kali mahal, hal itu bisa berupa keputusan yang salah, konflik yang tak perlu, atau peluang yang terlewat. Jika dibandingkan lima menit terlihat bodoh karena bertanya nyaris tidak ada artinya.

Jauh lebih murah daripada seumur hidup terkurung dalam ketidaktahuan. Lebih baik menanggung malu sebentar daripada menanggung konsekuensi panjang dari kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah.

Halaman:

Tags

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB