“Harus didayung, nggak ada boat. Harus mendayung 3 sampai 4 jam kalau mau beli minyak makan, telur,” ungkap seorang relawan.
Meski rumah-rumah mereka rusak dan dipenuhi lumpur yang mengeras, sebagian warga memilih tetap bertahan. Mereka membersihkan rumah seadanya dan melanjutkan hidup dengan segala keterbatasan.
“Tinggal tetap di sini kami. Pokoknya terserah sama Allah, kalau kemana pun kalau mau mati kan mati ya,” tutur seorang warga lirih.
Baca Juga: Mobil PLN Terjebak Lumpur, Solidaritas Warga Aceh Jadi Penyelamat
Tanpa gas dan fasilitas memadai, warga memasak menggunakan kayu bakar. Bagi mereka, keselamatan jiwa adalah hal utama.
“Nggak ada apa-apa lagi, tinggal yang ada di badan. Ini mulai dibersihin kan sedikit-sedikit, yang penting selamat. Harta masih bisa dicari, cuma nyawa yang terbatas,” pungkasnya.***