pontianak-insights

Terisolasi Sebulan Lebih, Warga Dusun Lelabu Aceh Tengah Bertahan di Tengah Ancaman Longsor

Jumat, 2 Januari 2026 | 17:00 WIB
Warga Dusun Lelabu, Mendale, Aceh Tengah yang masih kesulitan akses darat untuk dapat bantuan. (Dok. Instagram/syahru_ozer.)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TENGAH -- Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 masih menyisakan luka mendalam bagi warga terdampak. Hingga lebih dari sebulan berlalu, sejumlah wilayah di Aceh Tengah belum sepenuhnya pulih dan masih terisolasi.

Salah satu daerah yang kondisinya memprihatinkan adalah Dusun Lelabu, Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah. Warga di kawasan ini hidup dalam kecemasan akan potensi banjir dan longsor susulan, sementara akses darat ke dusun mereka terputus total.

Baca Juga: Mobil Dicoret, Keluarga Disasar: Teror terhadap Sherly Annavita Bikin Geger

Satu-satunya jalur keluar masuk Dusun Lelabu hanya bisa ditempuh melalui Danau Lut Tawar menggunakan perahu sederhana. Kondisi ini membuat distribusi bantuan dan kebutuhan pokok menjadi sangat sulit.

Seorang warga menceritakan detik-detik mencekam saat bencana terjadi pada 26 November 2025. Air bah mulai datang dengan deras sekitar pukul 16.00 WIB, memaksa warga mengambil keputusan cepat untuk menyelamatkan diri.

“Datang kapal dari Mendale ke sini, jemput anak ke pesantren. Terus lari aku ke sana, nanya mana sopirnya. Saya bilang setelah jemput anak pesantren ini, jemput lagi kami ke sini dua kapal,” ujarnya dalam video yang diunggah akun Instagram @syahru_ozer, Jumat (2/1/2026).

Ia menuturkan, dua kapal kembali menjemput perempuan dan anak-anak sekitar pukul 17.00 WIB. Rombongan tersebut baru tiba di posko pengungsian sekitar pukul 21.00 WIB.

Sementara itu, para pria dewasa memilih bertahan di dusun. Namun, sekitar pukul 00.00 WIB, air kembali datang dari arah perbukitan.

Mereka akhirnya terpaksa menyeberangi danau menggunakan sampan menuju Takengon dan baru tiba sekitar pukul 04.00 WIB dalam kondisi gelap gulita.

“Bapak-bapak nggak ada pergi, mereka di sini. Akhirnya datang air dari atas jam 00.00 WIB dan bapak-bapak ini naik sampan ke Takengon sampainya jam 04.00 WIB, tanpa lampu di tengah danau,” lanjutnya.

Kesaksian serupa disampaikan warga lainnya yang menggambarkan kengerian saat mendayung di tengah hujan deras dan ancaman longsor.

“Ibu-ibu udah duluan kami bawa ke sana naik kapal, naik boat. Bapak-bapaknya tinggal di sini karena nggak muat, terus datang longsor dari kiri kanan, terpaksa dayung perahu dari sini sampai ke Takengon,” ucapnya.

“Dari jam 12 malam sampai jam 4 subuh, itu kiri-kanan gunung-gunung kayak jatuh. Rasanya kayak gunung itu pecah,” sambungnya.

Ia mengaku, sampan yang digunakan hanya mampu menampung lima orang dengan satu dayung, tanpa penerangan, di tengah cuaca ekstrem.

Hingga kini, keterisolasian masih dirasakan warga. Untuk membeli kebutuhan dasar seperti minyak goreng dan telur, mereka harus mendayung perahu selama tiga hingga empat jam.

Halaman:

Tags

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB