Buku Built on Value: The Huawei Philosophy of Finance (2020) menjelaskan bahwa keberlangsungan perusahaan ditegakkan di atas penciptaan nilai jangka panjang, bukan keuntungan cepat.
Prinsip-prinsip seperti transformasi biaya menjadi investasi pengetahuan, serta keberanian mengambil risiko berbasis visi masa depan, menjadikan Huawei contoh menarik bagaimana produktivitas bisa digerakkan oleh nilai dan strategi pertumbuhan berkelanjutan.
Dalam konteks Indonesia, buku Strategi Pemasaran & Perilaku Konsumen (2024) oleh YEK Rahmantya menegaskan pentingnya memahami akar budaya lokal dalam perilaku belanja masyarakat. Nilai kekeluargaan, gotong royong, dan kearifan lokal tidak boleh diabaikan. Pemasar yang abai terhadap aspek ini akan kesulitan membangun relasi emosional dengan konsumennya.
Saat nilai sejati disubordinasikan oleh logika pasar, lahirlah konsumerisme: budaya membeli demi membeli. Perusahaan terus memproduksi “kebutuhan palsu”, sementara konsumen mengejar kebahagiaan yang selalu berjarak satu pembelian lagi. Kita menyaksikan paradoks global, produktivitas meningkat, tetapi kepuasan hidup stagnan.
Beberapa gejala yang muncul:
-
Waktu pribadi tergerus oleh tuntutan produktivitas kontinyu
-
Kesepian meningkat, padahal akses komunikasi makin luas
-
Sampah digital dan material meluas, merusak lingkungan
-
Identitas direduksi menjadi preferensi belanja
Ekonomi yang hanya mengejar kecepatan menjadikan manusia seperti mesin—pekerja dipaksa efisien, konsumen didorong impulsif, dan hidup kehilangan kedalaman.
Ekonomi Berbasis Nilai
Untuk mengembalikan manusia ke pusat kegiatan ekonomi, kita perlu meninjau kembali definisi produktivitas dan nilai.
Berikut tiga gagasan kunci:
1. Produktivitas yang Memanusiakan
Produktivitas harus berfokus pada peningkatan kualitas hidup manusia, pertama, fleksibilitas kerja yang mendukung keseimbangan hidup. Kedua, teknologi yang mengurangi beban kerja, bukan menambah stres. Dan ketiga yakni pengembangan kreativitas, bukan padat tekanan
Mengikuti pesan Burkeman manajemen waktu harus melayani kehidupan, bukan sebaliknya.
2. Pemasaran Bernurani
Pemasaran harus berubah dari praktik persuasi agresif menuju pembangunan hubungan jangka panjang. Mulai dari transparansi dan kejujuran dalam komunikasi, produk yang benar-benar bermanfaat dan berkelanjutan kemudian mendukung pilihan konsumsi yang etis. Sejalan dengan Carney bahwa pasar harus menegakkan nilai moral, bukan mengikisnya.