pontianak-insights

Konsumen Bukan Hanya Mata, Tapi Manusia

Kamis, 6 November 2025 | 10:36 WIB
Dokumen Penulis, saat mewawancarai Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto (lahir 28 Agustus 1951) adalah psikolog anak dan menjabat sebagai ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, 2024 (Samuel)

PONTIANAKGLOBE.COM | Di media sosial hari ini, kita sering menyaksikan parade produk lokal yang tampil menawan bak brand kelas dunia, kemasan estetik, logo minimalis, feed Instagram yang dirancang seperti majalah, video promosi ala sinema, hingga kolaborasi dengan influencer.

Manajemen atau UMKM Pontianak pun ikut dalam arus ini, misal kopi botol dengan nama berbahasa Inggris, roti premium dengan dus berlapis laminasi doff, frozen food dengan desain maskulin futuristik, hingga sambal lokal yang tampil seolah-olah lahir dari dapur hotel bintang lima.

Namun, beberapa bulan kemudian, tiba-tiba akun media sosial berhenti di-update, toko fisik tutup pelan-pelan, dan komentar terakhir di kolom Instagram berbunyi lirih, “Masih buka, kak?”

Fenomena ini bukan sekadar cerita sedih dari usaha kecil. Ini gejala yang mengungkap kesenjangan besar antara apa yang dilihat pelaku usaha, dan apa yang diperlukan konsumen. Branding indah memang memikat mata, tetapi pasar tidak digerakkan oleh mata saja.

Konsumen bukan algoritma yang hanya mengklik hal yang ‘cantik – mereka manusia’ (atau poster-poster cantik, hehe), dengan kebutuhan, keterbatasan, pertimbangan ekonomi, dan kebiasaan hidup yang nyata.

Ketika manajemen terlalu sibuk mempercantik citra, tetapi tidak memverifikasi fungsi, logika, dan relevansi produk di kehidupan konsumen (calon pengguna, pembeli, atau calon pelanggan), maka usaha yang mereka usahakan - hanya berumur sepanjang tren.

Dalam teori pemasaran klasik maupun modern, terdapat tiga konsep dasar yang seharusnya menjadi kompas awal setiap pelaku usaha: need, want, dan demand.

Need digambarkan sebagai kebutuhan dasar manusia – hal-hal yang membuat hidupnya dapat berjalan, makan, minum, rasa aman, identitas, dan kenyamanan.

Sedangkan want merupakan bentuk spesifik dari kebutuhan itu, dibentuk oleh selera, budaya, dan tren. Selanjutnya yakni demand yang bisa saja want yang disertai kemampuan dan kesediaan untuk membeli. Branding yang hebat hanya bisa menyentuh want, tetapi omzet hanya lahir jika want itu bertemu daya beli dan kebiasaan konsumsi yang stabil.

Masalahnya, banyak manajemen berhenti di tengah, berhasil menciptakan want (keinginan), tetapi gagal menciptakan demand (permintaan nyata).

Itulah mengapa sebuah minuman kekinian bisa memperoleh ribuan likes tetapi tidak sanggup bertahan enam bulan.

Orang suka, tapi tidak membeli atau membeli sekali, tetapi tidak kembali. Kalau dibidang lain, konsumen yang awalnya dapat janji pada iklan, alih-alih mau merekomendasikan tetapi sebaliknya justru menyesal dan apa boleh buat pada pilihannya, udah terlanjur – yah harus diselesaikan, miris.

Coba kita lihat Pontianak sebagai studi sosial kecil. Sebagai gambaran saja, warga kota ini jelas butuh minum — itu need. Mereka mungkin ingin minuman kopi botolan estetik berlabel bahasa Inggris dan warna pastel — itu want.

Tetapi apakah mereka sanggup membayar Rp 28.000 untuk minuman grab-and-go setiap hari?

Halaman:

Tags

Terkini