pontianak-insights

Workshop dan Pertunjukan Sastra Lisan Karungut Menjadi Stimulus Tumbuh Kembangnya Sastra Lisan Kalimantan Barat

Sabtu, 4 Oktober 2025 | 13:06 WIB
Workshop dan Pertunjukan Sastra Lisan Karungut diprakarsai oleh Langkau Etnika Kalbar . (Wilhelmus Triputra)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Workshop dan Pertunjukan Sastra Lisan Karungut diprakarsai oleh Langkau Etnika Kalbar yang di support penuh oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui program fasilitasi dan apresiasi komunitas sastra tahun 2025 memberi dampak positif bagi pelestarian sastra Kalimantan Barat.

Workshop Kesenian Karungut yang diadakan pada 24-26 September 2025 di Langkau Art Space berhasil memberikan wawasan dan keterampilan baru bagi 30 peserta dari berbagai komunitas seni di Kalimantan Barat. Hal ini terlihat dari hasil Post tes peserta dan
presentasi kelompok di hari terakir.

Workshop ini menggali asal-usul dan nilai sakral Karungut, seni sastra lisan tradisional masyarakat Dayak Ngaju–Uut Danum, Karungut ini lebih dari hiburan, Karungut memiliki nilai sakral dalam upacara Kaharingan, festival budaya, pernikahan, hingga sebagai tembang pengantar tidur anak di masa lalu.

Tiidak hanya memperkaya pengetahuan, workshop ini juga mendorong pelestarian seni tradisional di tengah budaya kontemporer.

Pemateri workshop dibawakan oleh J. Nyahu Marvi Bungai, atau akrab disapa Jo, seorang seniman berdarah Uut Danum, yang mengupas akar Karungut dari Agama Kaharingan. Jo menjelaskan bahwa Karungut berasal dari tembang Karunya, yang mengiringi penurunan manusia pertama oleh Ranying Hatalla melalui Palangka Bulau.

“Karungut bukan sekadar pantun atau gurindam, tapi media sakral untuk berkomunikasi dengan roh leluhur,
menyampaikan nasihat, mitologi, dan pesan moral,”ungkap Jo.

Dia juga menyoroti adaptasi bahasa Sangiang ke bahasa Ngaju modern agar lebih mudah diterima masyarakat luas.

Lanjut di hari kedua, workshop semakin interaktif dengan kehadiran narasumber Feliks Ivan Thambun, musisi tradisi dari sub-suku Uut Danum, dan Billie Agrie Oktada sebagai music director. Mereka memandu peserta dalam mengeksplorasi elemen musikal Karungut, memadukan irama tradisional dengan sentuhan kontemporer, sehingga peserta tak hanya belajar teori tapi juga merasakan getaran spiritual seni ini secara langsung.

Narasumber merupakan pelaku langsung dari Sastra Lisan Karungut Uut danum Serawai-Ambalau yang direkomendasikan oleh Badan Kesenian Dayak DAD Provinsi Kalimantan Barat.

Peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk menerapkan pengetahuan yang didapat, menghasilkan interpretasi unik Karungut yang mereka tampilkan di akhir sesi. Keistimewaan Karungut dikenal komunikatif dan sering diiringi alat musik tradisional seperti kacapi, rabab, katambung, dan kollatung, meski kini kerap dipadukan dengan iringan band modern.

Maestro seperti Syaer Sua, Bilton, Ucun A. Tingang, dan Ujai Mura menjadi inspirasi dengan lirik yang mencakup legenda penciptaan alam hingga pesan kehidupan sehari-hari. Karungut populer di daerah aliran Sungai Kahayan, Kapuas, Katingan, Barito, serta di Kalimantan Barat seperti Kecamatan Serawai, Momalluh, Menukung, Ella Hilir, dan Kalis.

Puncak dari rangkaian kegiatan ini yakni Pertunjukan Kolaboratif Kesenian sastra Lisan Karungut "Bahing Pomollum"—yang berarti senandung kehidupan dalam bahasa Dayak Uut Danum— Disajikan oleh 12 Seniman pada malam puncak Langkau Culture Art Festival #3
tanggal 28 September 2025, memukau ratusan penonton masyarakat dengan harmoni yang menyatukan masa lalu dan kini. Perpaduan dan kolaborasi unsur musik, tari, teater dan visual media ini menyuguhkan sebuah pertunjukan utuh berdurasi 25 menit menjadi sebuah media edukatif dan rekreasi jiwa bagi 487 orang penonton malam hari itu.

Tags

Terkini