Tak Hanya Andalkan DTSEN, Begini Cara Kemensos Menjangkau Anak Miskin ke Sekolah Rakyat

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Kamis, 22 Januari 2026 | 13:02 WIB
Sekjen Kemensos Robben Rico ungkap fakta soal masalah kesehatan anak-anak saat proses awal Sekolah Rakyat. (Dok. Promedia)
Sekjen Kemensos Robben Rico ungkap fakta soal masalah kesehatan anak-anak saat proses awal Sekolah Rakyat. (Dok. Promedia)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Sekolah Rakyat menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang dirancang untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang hidup dalam jerat kemiskinan.

Program yang berada di bawah Kementerian Sosial (Kemensos) ini tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemenuhan kesejahteraan masyarakat miskin dan miskin ekstrem.

Baca Juga: Usai Guru Honorer, Kini Guru PAUD Buka-bukaan Soal Gaji yang Memprihatinkan

Berbeda dengan mekanisme penyaluran bantuan sosial, Kemensos menerapkan metode tersendiri dalam menjaring calon siswa Sekolah Rakyat.

Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kemensos, Robben Rico, dalam forum Jaringan Pemred Promedia (JPP) yang digelar secara daring pada Selasa, 20 Januari 2026.

Meski pemerintah telah memiliki Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), Rico menegaskan bahwa data tersebut tidak dijadikan satu-satunya acuan.

“Pendekatan kita beda dari yang bansos. Awalnya bergerak dari DTSEN dulu, setelah itu untuk memastikan kami tidak langsung percaya 100 persen pada data, karena pasti ada margin errornya,” ucap Rico.

Ia menjelaskan, proses verifikasi dilakukan secara berlapis dengan melibatkan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) serta pemerintah daerah. Setiap anak yang diusulkan harus dilengkapi profil dan mendapatkan pengesahan dari kepala daerah.

“Kemudian nanti bukan hanya satu saja. Nanti pendamping PKH, teman-teman dari Pemda juga melakukan penjangkauan dan masing-masing harus ditampilkan profil anaknya untuk diajukan, ditandatangani kepala daerah,” paparnya.

Dalam forum tersebut, Rico juga mengungkap fakta bahwa masih ada anak-anak yang tidak tercatat dalam DTSEN. Ia menceritakan pengalamannya saat menjemput seorang anak bernama Alfiyanur yang tinggal di kawasan hutan di Katingan, Kalimantan Tengah.

“Saya penasaran kok aneh ini, ada orang tinggal di hutan sama kakaknya tapi tidak ketahuan,” ujarnya.

Ia menggambarkan medan yang harus ditempuh untuk mencapai lokasi tempat tinggal anak tersebut.

Baca Juga: Robben Rico: Sekolah Rakyat Hadir untuk Mereka yang Selama Ini Tertinggal

Perjalanan harus dilalui dengan kendaraan double cabin selama sekitar 25 menit di jalan tanah, kemudian dilanjutkan berjalan kaki selama 10 menit.

“Perjalanan ke sana, naik mobil double cabin itu 25 menit. Jalannya mohon maaf, bukan jalan aspal tapi jalan tanah. Setelah sampai di sana, masih jalan kaki 10 menit untuk sampai ke rumahnya,” ungkap Rico.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X