PONTIANAKGLOBE.COM, AMSTERDAM -- Perbincangan di media sosial tengah ramai menyoroti curahan hati seorang warga negara Indonesia (WNI), Dinasti Rahadiyanti, terkait pengalamannya hidup di Amsterdam, Belanda.
Cerita tersebut menyita perhatian warganet karena menyinggung cara pemerintah setempat merespons pemadaman listrik.
Melalui akun Instagram pribadinya @dinastirahadiyanti, pada Sabtu, 17 Januari 2026, Dinasti membagikan pengalamannya saat wilayah tempat tinggalnya mengalami pemadaman listrik.
Baca Juga: Pedagang Es Kelapa di Gowa Daftarkan 24 Kerabat Haji, Setoran Rp600 Juta
Namun, yang menjadi sorotan bukanlah kondisi gelap atau dinginnya cuaca, melainkan respons pemerintah terhadap situasi tersebut.
“Waktu listrik mati di Amsterdam, yang bikin aku panik bukan gelapnya,” ungkap Dinasti dalam unggahannya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah Kota Amsterdam justru membagikan panduan bertahan hidup selama 72 jam kepada warga yang terdampak pemadaman listrik.
“Amsterdam listrik padam, capek, dingin, gelap, overthinking, pemerintah baru sebar panduan bertahan hidup 72 jam,” tuturnya.
Bagi Dinasti, panduan tersebut menjadi pengingat penting tentang kesiapsiagaan. Ia menilai ketakutan terbesar bukan terletak pada listrik yang padam, melainkan pada rasa tidak siap menghadapi kondisi darurat.
“Yang bikin takut bukan listrik mati, tapi rasa tidak siap,” ujarnya.
“Panduan 72 jam itu bukan ramalan, itu pengingat. Kita boleh lelah, tapi tetap harus siap,” sambung Dinasti.
Dinasti juga mengungkapkan bahwa panduan bertahan hidup tersebut dibagikan dalam bentuk surat yang dikirim melalui mailbox atau kotak surat di kediamannya.
Baca Juga: Rumah Hanyut, Anak Kelas 2 SD Terpaksa Tinggal di Tenda di Bukit Aceh Timur
Panduan itu berisi sekitar 32 halaman yang memuat langkah-langkah persiapan jika terjadi kondisi darurat, seperti ketiadaan listrik, air, hingga makanan.
“Isinya total 32 halaman, memandu cara mempersiapkan diri kalau sampai tidak ada listrik, air, dan makanan,” tuturnya.