2 Butir Telur untuk 23 Orang, Kisah Bertahan Hidup Warga Aceh Tamiang

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Jumat, 19 Desember 2025 | 21:15 WIB
Cerita warga Aceh Tamiang yang berbagi telur saat 3 hari terisolir.  (Dok. Instagram/pempek_funny)
Cerita warga Aceh Tamiang yang berbagi telur saat 3 hari terisolir. (Dok. Instagram/pempek_funny)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah dengan dampak terparah akibat banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera pada akhir November lalu. Hingga kini, upaya penyaluran bantuan masih terus dilakukan pemerintah dan relawan ke wilayah yang sempat dijuluki sebagai ‘Kota Zombie’ tersebut.

Julukan itu bukan tanpa alasan. Pasca-banjir, kondisi gelap gulita, kendaraan terbengkalai, serta lumpur setinggi atap rumah menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah titik Aceh Tamiang. Di tengah situasi tersebut, kisah warga tentang perjuangan bertahan hidup pun bermunculan.

Baca Juga: Salah satu Korban Tsunami 2004 Ungkap Banjir Aceh Tamiang Lebih Gelap

Salah satu cerita menyentuh datang dari seorang warga yang menceritakan kondisi saat mereka terjebak banjir dengan bantuan yang belum kunjung tiba. Kisah itu diunggah akun Instagram @pempek_funny pada Jumat, 19 Desember 2025.

Saat air masih tinggi dan akses terputus, warga terpaksa berbagi makanan seadanya agar bisa bertahan hidup.

“Dua butir telur untuk kami makan 23 orang, potong segini-gini lah bu,” ujar warga tersebut.

Ia menjelaskan, dua butir telur itu dibagi menjadi potongan sangat kecil, hanya sebesar satu ruas jari untuk setiap orang.

“Untuk rasa aja, kan nikmat itu. Kan ke depan kita ngak tahu ya, kadang lebih pahit lagi, itu kita makan sedikit-sedikit,” lanjutnya.

Setelah tiga hari terisolasi, bantuan mulai berdatangan ke lokasi mereka. Makanan sederhana seperti mi instan menjadi penolong di tengah keterbatasan.

“Alhamdulillah, 3 hari udah ada orang yang kirim-kirim (bantuan) kayak ibu ini, ada juga yang deket-deket sini. Ada Indomie, lumayan. Alhamdulillah,” imbuhnya.

Tak hanya rumah, banjir juga merendam lahan pertanian warga. Padi yang hampir panen ikut tenggelam dan berubah warna. Namun demi bertahan hidup, padi tersebut tetap dimanfaatkan.

“Padi tenggelam, hitam-hitam kami jemur, jadi beras hitam,” tuturnya.

Baca Juga: Kisah SRMP 11 Bandung Barat, Sekolah untuk Anak yang Hampir Kehilangan Masa Depan

Sementara itu, data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat, 19 Desember 2025 pukul 10.50 WIB mencatat total korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Sumatera mencapai 1.068 orang. Sebanyak 190 orang masih dinyatakan hilang dan lebih dari 7.000 orang mengalami luka-luka.

Di Aceh, korban meninggal tercatat sebanyak 456 orang dengan 31 orang masih hilang. Di Sumatera Utara, 366 orang meninggal dunia dan 75 orang belum ditemukan. Sedangkan di Sumatera Barat, korban meninggal mencapai 246 orang dengan 84 orang masih dalam pencarian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X