Banjir Bandang hingga Longsor: Agam Dilanda Bencana Terburuk dalam Tahun Ini

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Minggu, 30 November 2025 | 08:05 WIB
Menyoroti fakta terkini bencana alam akibat cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat.  (Dok. BNPB)
Menyoroti fakta terkini bencana alam akibat cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat. (Dok. BNPB)

PONTIANAKGLOBE.COM, AGAM -- Sebanyak 74 warga dilaporkan meninggal dunia akibat cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada Sabtu, 29 November 2025. Operasi pencarian masih terus dilakukan tim SAR gabungan di berbagai titik yang terdampak banjir bandang, longsor, angin kencang, dan pohon tumbang.

Bencana tersebut menimbulkan kerugian besar. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Agam, Roza Syafdefianti, menyebut total kerugian mencapai Rp13,9 miliar. Kerusakan terbesar berasal dari hunian warga, yakni 49 rumah rusak berat, 28 rusak sedang, dan 468 rusak ringan.

“Rumah rusak tersebut tersebar di beberapa kecamatan dampak angin kencang, pohon tumbang, banjir, banjir bandang dan tanah longsor,” kata Roza di Lubuk Basung.

Baca Juga: Pengamat Bongkar Motif di Balik Tim Reformasi Internal Polri Bentukan Kapolri

Selain permukiman, bencana juga merusak fasilitas pendidikan. Sebanyak 55 sekolah mengalami kerugian sekitar Rp705 juta. Sementara itu, 11 unit irigasi dilaporkan rusak.

Data BPBD Kabupaten Agam mencatat 74 korban meninggal hingga 28 November 2025 pukul 20.00 WIB. Kecamatan Palembayan menjadi wilayah dengan korban tertinggi, yakni 27 orang, dengan 21 telah teridentifikasi. Korban dari Kampung Tangah sebanyak 7 orang, Kampung Tanggah Timur 9 orang, dan Subarang Ala 17 orang.

Korban lain tercatat di Kecamatan Malalak 10 orang, Tanjung Raya 2 orang, Palupuh 1 orang, dan Matur 1 orang. Seluruhnya telah teridentifikasi.

BPBD juga mencatat 78 warga masih hilang, mayoritas dari Kecamatan Palembayan, sebanyak 69 orang. Sisanya, 7 orang dari Malalak dan 2 orang dari Tanjung Raya. Ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat bencana beruntun dalam sepekan terakhir.

Secara terpisah, Kepala BPBD Agam, Rahmat Lasmono, menyampaikan bahwa sebanyak 2.500 warga kini mengungsi di berbagai lokasi penampungan.

“Ada 2.500 warga yang mengungsi ke lokasi pengungsian yang telah disediakan,” ujar Rahmat.

Pengungsian tersebar di sejumlah kecamatan. Di Ampek Koto, sekitar 600 orang mengungsi akibat luapan sungai. Di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, sekitar 100 warga mengungsi setelah akses jalan putus total dan kini ditempatkan di Kantor Wali Nagari.

Ratusan warga lainnya meninggalkan rumah mereka di Salareh Aia, Palembayan; Anak Aia Kasiang, Nagari Bawan; serta Malalak Timur dan Labuhan di Nagari Tiku Lima Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara.

Baca Juga: Rekening Masih Dibekukan, Ira Puspadewi Mengaku Hidup dari Bantuan Teman

Pemerintah Kabupaten Agam menyiapkan fasilitas logistik bagi para pengungsi. Sebanyak 26 dapur umum telah didirikan untuk menyediakan makanan siap saji.

“Kebutuhan makan seluruh pengungsi bakal disediakan oleh dapur umum yang telah didirikan,” kata Rahmat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X