Meski demikian, Kabawat mengingatkan pentingnya terus memantau janji oposisi untuk menghormati agama minoritas. “Hal terakhir yang kita inginkan adalah Suriah jatuh ke dalam perang sektarian,” tegasnya.
Dominasi kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dalam pasukan pemberontak menjadi perhatian besar.
Sebagai kelompok dengan akar yang terkait al-Qaeda, HTS memiliki sejarah sikap garis keras terhadap agama minoritas.
Dalam wawancara 2014, pemimpin HTS Abu Muhammad al-Julani pernah menyatakan bahwa Suriah harus diperintah sesuai interpretasi kelompoknya terhadap hukum Islam, tanpa ruang bagi minoritas seperti Kristen dan Alawi.
Namun, setelah meraih kemenangan, al-Julani mengeluarkan pernyataan yang lebih moderat.
Dalam pidatonya di Damaskus, ia menyebut kemenangan oposisi sebagai “kemenangan untuk seluruh warga Suriah.”
Ia juga menekankan pentingnya melestarikan keragaman budaya dan agama Suriah.
Sebelum perang, sekitar 200.000 umat Kristen tinggal di Aleppo, tetapi kini jumlahnya menyusut menjadi hanya 30.000.
Baca Juga: Kongres IV IKA FISIP Untan 2025, Kolaborasi Alumni untuk Masa Depan Kalbar
Di Homs, kota yang direbut oposisi pada Sabtu malam, komandan oposisi Hassan Abdul Ghany menegaskan komitmennya untuk meninggalkan sektarianisme.
“Era tirani dan sektarianisme telah berakhir,” ujarnya.
Meski demikian, memori kekerasan masa lalu, seperti serangan terhadap minoritas Alawi oleh Front al-Nusra -- kelompok pendahulu HTS -- masih menghantui banyak orang.
Al-Julani sendiri mencoba meyakinkan dunia bahwa Suriah akan tetap menjadi tempat yang menghormati keragaman.
“Aleppo akan tetap menjadi titik pertemuan peradaban dan budaya,” ujarnya dalam pernyataan di Telegram.