PONTIANAKGLOBE.COM, MEMPAWAH- MAMASII merupakan upacara adat Suku Dayak Taman, yang dilakukan sebagai penghormatan dan penghargaan kepada Tokoh yang diberjasa dan dihormati serta sukses dalam hidupnya.
Kebetulan kegiatan Mamasii ini dilaksanakan setelah pembangunan Rumah Betang di Kompleks Rumah Retret Santo Johanes Paulus II Anjongan yang merupakan niat Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus sedari awal menginginkan agar Rumah Betang dibuat dengan acara adat Suku Dayak Taman.
Lebih spesial lagi, meskipun Uskup Agustinus berlatar belakang Dayak Pompangk, namun dia sangat berjasa dengan Suku Dayak Taman.
Sesepuh Dayak Taman, Kaphat mengatakan dalam sambutannya bahwa Uskup Agustinus juga ada membangun dan memiliki Bilik di rumah Betang (Soo Langke) Baligundi di Sibau Hulu makanya Uskup tidak segan mengaku sebagai tokoh Dayak Taman atau suku Taman.
Menurut Kaphat, Uskup Agustinus Agus sangat besar kepeduliannya terhadap kehidupan budayak Dayak Taman Kapus Hulu, baik sebagai tokoh katolik dan juga sebagai salah satu tokoh Dayak Taman yang peduli terhadap kelestarian adat dan budaya Taman yang ada.
“Perlu saya sampaikan bahwa Uskup Agustinus ini sewaktu menjadi Uskup di Sintang oleh almarhum ayahanda Daili bin Dadap telah diangkat anak secara resmi atau diakui sebagai anak. Ayahanda Daili bin Dadap ini berasal dari desa Ariung Mendalam atau Semangkok Kecamatan Putussibau Utara,” katanya, (24/11).
Kaphat juga menambahkan bahwa Uskup Agustinus juga sudah 2 atau 3 kali melaksanakan Gawai Mandung membunuh kerbau atau sapi sesuai dengan adat Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu.
Selain sosok Uskup Agung Pontianak, dia memiliki perhatian khusus untuk kebudayaan baik Tionghua, Dayak dan Melayu, hal itu tampak dalam pembangunan Rumah Retret Anjongan dengan corak sejarah dan kebhinekaan.
Dimana-mana, Uskup Agustinus selalu mengatakan tanpa nenek moyang, kita tidak mungkin bisa ada sampai saat ini. Untuk itu hargailah orang tua.
“Hargailah orang tua kita, jangan sampai kita kualat,” tutur Uskup Agustinus dalam perbincangan sore dengan wartawan Keuskupan (25/11).
Mamasii dan Perayaan Ulang Tahun umur ke 74 Uskup Agustinus
Kegiatan terlaksana pada 24 November 2023 pukul 14.30 WIB yang dimulai dengan perarakan dari Gereja Katolik di Stasi Santo Yosep Anjongan kemudian diarak dengan Paruu Tambe atau Sampan Hias adalah sampan Besar yang di Hias dengan Kain Panggar atau kain yang diukir motif Suku Dayak Taman, Daun Kelapa Muda, Ginggilang, Gilingirik Dung Riribu, Papanji dan Bendera adat.
Meskipun di hulu umumnya menggunakan perahu, untuk di Mempawah senidiri menggunakan mobil yang dihiasi seperti perahu. Perarakan dimulai dengan melewati pasar Anjongan hingga ke Gua Maria Ratu Pencinta Damai dan sampai pada muara Rumah Betang di Rumah Retret Santo Johanes Paulus II Anjongan.
Sepanjang perjalanan dibunyikan Tabuhan untuk mengiring jalannya Paruu Tambe mulai dari berangkat hingga sampai tujuan.
Sesampainya di lokasi semua orang yang akan di Mamasii, menurut tata cara Adat Taman Prosesi Mumpang yaitu melintangkan kayu yang masih baru dengan ukuran yang disesuaikan dan di letakkan pada tempat yang sudah tersedia dan posisi yang pantas menurut Adat Taman dengan beberapa orang yang memegang kayu Umpang.