inter-nasional

Bupati dan Wabup Malaka Dikabarkan Pecah Kongsi, Diduga Ada Permainan Skuad Lama

Jumat, 14 Oktober 2022 | 00:35 WIB
Bupati dan Wakil Bupati Malaka, Provinsi NTT (Dok.Humas Pemda)

Bupati Simon Nahak terlihat semakin semangat. Sebab bekerja dan mencari uang untuk rakyat adalah tujuan untama kemabali ke Malaka.

Meski diterpa isu atau bekerja tanpa didampi sang wakilnya itu. Bupati Simon tancap gas, dimana fokus merealisasikan segala janji kampaye.

Berpikir Pecah Kongsi

Selain melakukan audit anggaran, bupati dan wakil bupati Kabupaten Malaka, Dr Simon Nahak, SH, MH-Louise Lucky Taolin, S.Sos melakukan gebrakan membangun alun-alun dan penataan Kota Betun serta membangun pusat perkantoran di kawasan Labarai.

Bagaimana implementasinya? Seperti apa komitmen keduanya agar tidak pecah kongsi? Wartawan mewawancarai Simon Nahak-Lucky Taolin di Lobi Hotel Sotis Kupang, beberapa saat setelah dilantik yang dikutip dari Youtube.

Bupati Simon: Ya, saya dengan pak Wakil Bupati, bahkan pada waktu debat pun kita sudah bilang. Malaka belum punya alun-alun.

Berikut, kami di Kota Betun kalau hujan lebat musti banjir. Ini aneh. Kita juga mau buat trotoar dan saluran. Itu minimal kita lakukan.

Kita juga rencana mau membangun pusat pemerintahan Kabupaten Malaka, kawasan ini tahun pertama kita sudah minta Kadis PU untuk buka akses dua jalur ke kawasan itu terutama dan juga perlu. Lokasinya di Betun. Namanya Labarai, lokasinya strategis.

Soal anggaran tentu tidak bisa berasumsi. Prioritas program itu yang harus kita lakukan.

Tahun anggaran 2021 sudah berjalan, APBD Malaka sudah ditetapkan. Bagaimana menyiasati supaya visi misi dan program bisa diakomodir?

Ada anggaran yang kita bisa jangkau. Kalau untuk program high cost dan yang besar tetap ada peluang. Saya dan Pak Wakil Bupati sudah ikut musrembang, sampai du provinsi mereka mengakomodir harapan itu.

Masih memungkinkan, karena Bank NTT juga bisa beri pinjaman lunak. Kenapa kita tidak gunakan itu, komunikasi dengan semua pihak untuk bantu.

Kalau minta jaminan, ya jaminan kantor. Saya tidak mungkin bawa pikul itu kantor setelah selesai. Pinjaman daerah boleh, dana hibah dari pusat juga bisa, yang penting membuka diri untuk membangun.

Saya kira selama ini, saya lihat dan bangun komunikasi ya tidak ada perbedaan. Sebab kami di Malaka kuncinya saling menghormati dan menghargai.

Kami juga bukan menang dengan keangkuhan dengan kesombongan, tapi kita dengan rendah hati kalau kita ada pendekatan secara adat saya yakin mereka tidak mungkin tidak terima.

Halaman:

Tags

Terkini