inter-nasional

Gusti Marrel Tokoh Muda Kasultanan Yogyakarta Dukung Greenfunction, Ternyata Ini Alasannya

Senin, 26 Juni 2023 | 07:13 WIB
RM Gusthilantika Marrel Suryokusumo atau Gusti Marel saat mengunjungi Green Function di kampung Ireng-iteng Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta, Jumat 23 Juni 2023. (Dok. Pontianak Globe)

"Misal kita di sini punya ukuran kolam ikan 9x9 m, juga ada 5x5 m kemudian setting peralon dikonsep, ada kandang ayam di kanan kirinya. Melalui sistem bakterisasi fermentasi kita bisa panen patin 3,5 ton. selama 8 bulan saja. Lalu ayamnya kita bisa hasilkan 500 telur. Dalam siklus itu kita bisa memadukan dalam 1 tahun ayam, ikan, dan tanaman. Per tahun kita dapat bersih Rp20-25 juta. Kita mampu memanajemen air, perikananan, ternak ayam dan tumbuhan.dalam ekosistem alami di rumah kita sendiri," ungkapnya.

Bagi Ervan, konsep konservasi dari rumah sendiri walaupun kecil bisa memandirikan kedaulatan pangan.

Memanfaatkan air sumur bisa dialirkan ke kolam, kemudian ke perikanan, dan ke sumur resapan.

Sumber air kolam yang dibakterisasi juga mampu mengubah amonial ke nitrat kemudian ke sawah kalau di desa. Sehingga bisa tanam padi dan palawija.

"Arti berkedaulatan pangan yakni rumah ini menyesuaikan kondisi alamnya. Kota dibangun dengan batu alam, kayu alam agar bisa menumbuhkan tanaman. Kita misal ada lahan bisa kita buat sebagai warung, ada supermarket hidup juga. Kita bisa jual ikan, sayuran, dan lainnya langsung ke komsumen," ungkap Ervan.

Menurut dia, Sistem Green Function bisa menjadi contoh bagaimana rumah bisa berproduksi, hemat energi, sekaligus mampu mengendalikan hama karena bisa dilihat langsung.

"Intinya kita menggabungkan sistem konvensional dan modern, dengan sistem sederhana yang berfungsi untuk masyarakat,"ungkap Ervan.

Daya Tarik Wisata
Menanggapi penjelasan Erwan, Gusti Marrel menyampaikan bahwa upaya konservasi berkelanjutan seperti Green Function bisa menjadi daya tarik wisata edukasi sekaligus bernilai ekonomi..

"Kalo daya tarik Green Function pasti ya, karena saya banyak gerak soal lingkungan, bisa hutan, gunung, sungai dan lainnya. Kita ingin melihat sebenarnya, dari rumah sendiri kita bisa menumbuhkan kemandirian pangan. Dari lingkungan rumah kita bisa jadi sumber ekonomi. Di banyak negara, model Green Astitektur, seperti Amerika, Eropa, barangkali hanya berhenti pada tahapan green energy. Kalau di sini konsepnya berbeda karena ada ikan, treatment air, tanaman. Di sini konsep green bisa memproduksi dan sumber pemasukan," ungkap Gusti Marrel.

Sebagai rumah pangan, Green Function menurut dia, seperti mengajak kembali kesadaran masyarakat kepada filosofi yang sudah ada sejak dulu yakni menanam di rumah atau pangan dari rumah.

Kesadaran mengembangkan Rumah Pangan ini menjadi sangat penting di mana saat ini dunia tengah mengalami lagi krisis energi. Seperti di krisis energi Eropa yang membuat harga energi menjadi naik.

"Nah, bisa ada tanaman hidroponik bisa dijual, bisa dikonsumsi sendiri. Jadi sustainability-nya bisa terjamin. Konsep yang berbeda kalau dibandingkan di daerah lainnya di dunia, karena ada sistem menggabungkan tadi, nah ini misalnya ada irigasi di dalam rumah untuk menunjang produksi pangan itu sendiri, jadi sangat penting dalam konteks kedaulatan pangan," papar Gusti Marrel.

Menurutnya, dengan sumberdaya alamnya yang tinggi, Indonesia harus melewati tantangan masa transisi energi.

"Ada percobaam yang gagal ada yang revisi, tapi semua harus dilewati. Kesadaran itu muncul di tengah masyarakat dan kita bisa membentuk perubahan. Kita memegang nilai orang-orang timur, bareng-bareng secara lokalitas, kesadaran program harus berdasar kearifan lokal," jelas Gusti Marrel.

Ia juga mendorong upaya konservasi berbasis kearifan lokal menjadi salah satu langkah strategis agar program yang diterapkan membumi dan tepat sararan.

Halaman:

Tags

Terkini