PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Sebelum masuknya Islam, Iran didominasi oleh agama-agama seperti Zoroastrianisme, Manikeanisme, dan kepercayaan Proto-Iran, terutama pada masa Kekaisaran Median, Achaemenid, Parthia, dan Sassania.
Namun, setelah Kekaisaran Sassania runtuh akibat penaklukan Islam, Iran bertransformasi menjadi negara Muslim.
Baca Juga: Mengenal Keberagaman Etnis dan Bahasa di Iran, Fakta Menarik yang Jarang Diketahui
Awalnya menganut Islam Sunni, Iran berubah menjadi negara Islam Syiah pada abad ke-16 di bawah dinasti Safawiyah — termasuk juga wilayah yang kini menjadi Republik Azerbaijan.
Kini, mayoritas warga Iran (sekitar 90–95%) menganut Islam Syiah Dua Belas Imam, yang menjadi agama resmi negara.
Sekitar 4–8% penduduk lainnya adalah Muslim Sunni, terutama dari etnis Kurdi dan Baloch.
Sekitar 2% sisanya menganut agama minoritas lain, seperti Kristen, Yahudi, Zoroastrianisme, Bahá'í, dan lainnya.
Baca Juga: Perang Memanas, Iran Siapkan Operasi Balasan terhadap Israel dan Netanyahu
Yahudi sudah ada di Iran sejak era Kekaisaran Achaemenid.
Walau banyak yang telah bermigrasi, sekitar 8.756 orang Yahudi masih menetap di Iran—populasi Yahudi terbesar di Timur Tengah selain Israel.
Kristen merupakan agama minoritas resmi terbesar di Iran, dengan 250.000–370.000 penganut, kebanyakan dari etnis Armenia dan Asiria.
Baca Juga: Iran, Negeri Bangsa Arya dengan Warisan Kekaisaran Besar
Islam Sunni, Kristen, Yahudi, dan Zoroastrianisme diakui secara resmi oleh pemerintah Iran dan memiliki perwakilan di parlemen.
Namun, agama Bahá'í—meskipun merupakan agama minoritas non-Muslim terbesar—tidak diakui secara resmi dan kerap mengalami diskriminasi, termasuk pelanggaran hak sipil, larangan kuliah, serta pemutusan pekerjaan.
Meskipun tidak ada data resmi, populasi warga yang tidak memeluk agama kian meningkat, terutama di kalangan diaspora Iran di luar negeri, seperti di Amerika Serikat.