BMKG menyebut gempa ini dipicu oleh aktivitas Sesar Besar Sagaing dengan mekanisme pergerakan mendatar (strike-slip).
Selain itu, Daryono menegaskan bahwa gempa besar di Myanmar dapat berpengaruh terhadap aktivitas seismik di wilayah lain, termasuk Indonesia.
Sementara itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengaktifkan sistem manajemen daruratnya untuk merespons bencana ini.
Pusat logistik WHO di Dubai mulai menyiapkan pengiriman bantuan, termasuk peralatan medis untuk menangani korban luka.
Junta militer Myanmar juga secara resmi meminta bantuan kemanusiaan dari komunitas internasional.
Kepala junta, Jenderal Min Aung Hlaing, mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas telah mencapai 144 orang, dengan lebih dari 730 korban luka.
Angka ini diperkirakan masih akan bertambah seiring upaya penyelamatan yang terus berlangsung. ***