Memulai Bisnis dengan Jualan Batik
Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1950, Riady mulai memikirkan bisnis apa yang akan digelutinya.
Pilihan pertamanya adalah berdagang batik, mengikuti jejak sang ayah yang merupakan pedagang batik di Malang, Jawa Timur.
"Saat itu, saya harus menjual delapan potong batik setiap hari untuk mencukupi kebutuhan hidup," kenangnya. Namun, persaingan yang ketat di kawasan Kayutangan, Malang, membuat Riady merasa khawatir jika dagangannya tidak laku.
Baca Juga: Prabowo Umumkan Kenaikan Upah Minimum 6,5 Persen, Kesejahteraan Buruh Jadi Prioritas
Filosofi Hidup dari Lao Tzu
Di tengah kesulitan, Riady menemukan inspirasi dari ajaran Lao Tzu, filsuf Tionghoa yang menjadi pendiri Taoisme.
Filosofi Lao Tzu mengajarkan keseimbangan hidup dan empati kepada sesama.
"Saya belajar untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga bagaimana saya bisa berkontribusi bagi banyak orang," ungkapnya. Filosofi ini menjadi landasan dalam perjalanan hidup dan bisnis Riady.
Berkarier di Dunia Perbankan dan Lippo Group
Riady kemudian memutuskan untuk mengubah haluan hidupnya menjadi seorang bankir.
Menurutnya, uang bukan hanya sekadar materi, tetapi juga simbol dari waktu, tenaga, dan pemikiran yang merupakan pemberian Tuhan.
Sebagai bankir, Riady sukses menyelamatkan Bank Buana dari kebangkrutan pada 1966, saat Indonesia tengah dilanda krisis ekonomi. Keberhasilan ini menjadi pijakan bagi langkah besar berikutnya.
Pada 1981, Riady membeli sebagian saham Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning.