Meski Terkait Haymarket Riot, Ternyata Labor Day di Amerika Serikat Diperingati Bulan September

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Sabtu, 29 April 2023 | 19:07 WIB
May Day: Sejarah, Arti Penting, dan Perjuangan Para Buruh dan Pekerja untuk Hak-hak Mereka. (Pontianak Globe/Freepik )
May Day: Sejarah, Arti Penting, dan Perjuangan Para Buruh dan Pekerja untuk Hak-hak Mereka. (Pontianak Globe/Freepik )

PONTIANAKGLOBE.COM -- Peringatan May Day di Amerika Serikat memiliki sejarah yang berkaitan dengan perjuangan buruh untuk hak-hak mereka.

Pada tahun 1886, serikat buruh di Amerika Serikat, termasuk Knights of Labor dan American Federation of Labor, memproklamirkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional sebagai bagian dari perjuangan mereka untuk memperjuangkan hak-hak pekerja, termasuk hak untuk jam kerja delapan jam.

Namun, setelah insiden Haymarket Riot yang terjadi pada 4 Mei 1886 di Chicago, di mana bom molotov dilemparkan ke arah polisi dan menewaskan tujuh orang polisi, 1 Mei menjadi dianggap sebagai hari yang berhubungan dengan gerakan anarkis dan menjadi bahan propaganda anti-anarkis dan anti-komunis oleh pemerintah dan pengusaha Amerika Serikat.

Oleh karena itu, Amerika Serikat memutuskan untuk tidak memperingati 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional, dan memilih untuk memperingati Hari Pekerja atau Labor Day pada hari pertama Senin di bulan September.

Labor Day di Amerika Serikat menjadi hari libur resmi sejak 1894 dan diperingati dengan mengadakan parade dan festival di seluruh negeri.

Namun, beberapa kelompok buruh dan gerakan sosial di Amerika Serikat tetap memperingati 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional dan mengadakan unjuk rasa atau aksi solidaritas untuk memperjuangkan hak-hak pekerja.

Beberapa kota di Amerika Serikat juga memutuskan untuk mengadopsi peringatan 1 Mei sebagai Hari Buruh setelah desakan dari kelompok-kelompok buruh dan gerakan sosial di masyarakat.

 

Kisah Haymarket Riot

Haymarket Riot atau Kerusuhan Haymarket terjadi pada tanggal 4 Mei 1886 di Chicago, Amerika Serikat.

Kerusuhan ini terjadi saat ribuan buruh menggelar unjuk rasa untuk memperjuangkan hak-hak mereka, seperti jam kerja yang lebih singkat dan upah yang lebih baik.

Pada saat itu, jam kerja yang umum adalah 12 jam per hari, enam hari seminggu.

Buruh yang berjuang untuk jam kerja delapan jam dianggap sebagai kaum radikal dan sering dianggap sebagai ancaman bagi pihak majikan dan pemerintah.

Pada hari kerusuhan, para buruh berkumpul di Haymarket Square untuk mendengarkan pidato dari para pemimpin serikat pekerja.

Pidato berjalan dengan damai hingga polisi datang dan mencoba membubarkan kerumunan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X