Bedah Buku, Dosen Esa Unggul Ungkap Penyebab Pembangunan Indonesia Lamban

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 1 November 2023 | 21:34 WIB
Bedah Buku, Dosen Esa Unggul Ungkap Penyebab Pembangunan Indonesia Lamban. (Dok. Pontianak Globe)
Bedah Buku, Dosen Esa Unggul Ungkap Penyebab Pembangunan Indonesia Lamban. (Dok. Pontianak Globe)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan alam yang melimpah, tetapi juga salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang lamban. Apa penyebabnya?

Dr. Legisan S. Samtafsir, penulis buku "Politik Pembangunan Dunia Muslim: Studi Perbandingan Politik Asosiatif Indonesia dan Turki Era Pasca Perang Dingin", mengkritisi paradigma politik ekonomi yang dianut oleh Indonesia, yaitu asosiatif ekstraktif.

Baca Juga: Prediksi Pertandingan Torino vs Frosinone di Coppa Italia 2023: Tuan Rumah Berpengalaman

Paradigma asosiatif ekstraktif, menurut Legisan, adalah paradigma yang mendekat kepada kekuatan ekonomi global tanpa memperhatikan kepentingan domestik.

Paradigma ini menyebabkan surplus ekonomi Indonesia mengalir keluar negeri melalui pintu-pintu seperti perdagangan luar negeri, investasi asing, dan hutang luar negeri yang tidak diatur dengan baik.

Baca Juga: Life Skill yang Wajib Diajarkan kepada Anak Usia Kelas 2 SD Oleh Orang Tua di Rumah

"Indonesia itu lamban dalam pembangunan karena surplus ekonominya mengalir keluar negeri. Ini disebabkan oleh pintu-pintu seperti perdagangan luar negeri, investasi asing, dan hutang luar negeri yang tidak diatur dengan baik. Akibatnya, pasar dalam negeri tidak terproteksi dan produk dalam negeri tidak bersaing," ujar Legisan dalam sebuah diskusi yang digelar oleh Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul, Selasa, 31 Oktober 2023.

Baca Juga: Halloween 2023: Mengapa Buah Labu Sering Terkait dengan Perayaan Halloween, Ternyata Begini Legendanya

Legisan yang juga dosen Esa Unggul menyarankan agar Indonesia mengubah paradigma pembangunannya menjadi disosiatif inklusif, yaitu menerapkan pola proteksi yang terbuka. Artinya, Indonesia tetap terbuka kepada kekuatan ekonomi global, tetapi juga memberikan proteksi yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal dan masyarakat.

"Indonesia harus meningkatkan industrialisasi dalam negeri, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Indonesia juga harus menghentikan deindustrialisasi yang terjadi dalam 10 tahun terakhir. Selain itu, Indonesia harus memperkuat pemberdayaan masyarakat lokal agar dapat memanfaatkan kekayaan alamnya untuk kesejahteraan," tutur Legisan.

Baca Juga: Halloween 2023: Asosiasi Perawat Spanyol Minta Toko Tak Menjual Kostum Perawat Seksi, Merendahkan Profesi

Penulis juga membandingkan paradigma politik ekonomi Indonesia dengan Turki, yang menurutnya lebih berhasil dalam pembangunan karena menerapkan paradigma disosiatif inklusif. Penulis menjelaskan bahwa Turki mampu melakukan industrialisasi dan diversifikasi ekonominya dengan melindungi pasar domestiknya dari dominasi kekuatan ekonomi global.

"Turki itu berhasil dalam pembangunan karena surplus ekonominya mengalir ke dalam negeri. Ini disebabkan oleh pintu-pintu seperti perdagangan luar negeri, investasi asing, dan hutang luar negeri yang diatur dengan baik. Akibatnya, pasar dalam negeri terproteksi dan produk dalam negeri bersaing," kata Legisan.

Baca Juga: Mengenal Aitana Bonmati, Pemenang Ballon d'Or Feminin 2023: Ini Olahraga Kolektif Saya Persembahkan untuk Tim

Buku ini merupakan hasil dari disertasi doktoral penulis yang membahas tentang politik pembangunan di dunia Muslim. Buku yang dirilis pada 2022 ini mendapat apresiasi dari Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul Prof Erman Anom, yang mengatakan bahwa diskusi tentang buku ini merupakan salah satu bentuk kegiatan akademik yang penting untuk meningkatkan kualitas dosen . Nantinya, hasil diskusi yang digelar Dwi mingguan itu akan dituangkan dalam bentuk buku.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X