PONTIANAKGLOBE.COM -- Peneliti menjelaskan bahwa bahaya dan risiko dari rokok elektrik (vape), bukan hanya ditemukan di paru-paru para perokok, namun juga yang terkena asapnya.
Data menunjukkan adanya peningkatan 30 persen remaja yang terpapar asap ‘bekas’ rokok di Amerika Serikat sejak tahun 2015 dan 2017.
Menurut peneliti Institut Kanker Dana-Farber, Boston, Andy Tan, data tersebut dikatakan "memprihatinkan," karena sejumlah kemungkinan bahan kimia berbahaya dilepaskan oleh e-rokok -- termasuk nikotin, logam berat, aldehida, gliserin dan zat penyedap.
"Sebagian besar penelitian telah menyimpulkan bahwa paparan pasif dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi orang-orang, terutama populasi yang rentan seperti anak-anak dan remaja," demikian ujarnya.
Sebagian besar paparan pasif rokok elektrik merupakan hasil dari hidup dengan atau berada di sekitar orang yang menggunakan e-rokok, yang dilaporkan tim Tan.
Dua ahli lain yang tidak terkait dengan penelitian Tan juga sepakat bahwa ada alasan nyata untuk peduli terhadap kesehatan remaja karena adanya gaya hidup yang berubah.
"Bahaya asap rokok bekas telah digambarkan dengan baik dalam beberapa tahun terakhir, sehingga tidak mengherankan jika 'asap' rokok dari vaping juga dapat menyebabkan kerusakan," ungkap Dr Len Horovitz, seorang spesialis paru-paru di Lenox Hill Hospital di New York. Kota, Amerika Serikat. ***
Artikel Terkait
Pemerintah Naikkan Cukai Rokok Elektrik Sebesar 15% pada 2023 dan 2024
Harga Rokok Tembakau Dipastikan Naik Menyusul Naiknya Tarik Cukai Hasil Tembakau Sebesar 10 Persen
Rokok Filter Dominan Sumbang Inflasi Kalbar, November 2022 Naik
Pemerintah Berencana Melarang Penjualan Rokok Batangan, Presiden: Untuk Kesehatan Masyarakat
Wah Gawat, Studi Baru Menunjukkan Vape Berbahaya bagi Kesehatan Jantung