PONTIANAKGLOBE.COM -- Garam sudah menjadi kebutuhan yang tak terelakkan agar masakan semakin enak dan gurih.
Namun penelitian menyebutkan, terlalu banyak mengonsumsi garam bisa menyebabkan stres tingkat tinggi.
Sebuah studi dari tim peneliti dari University of Edinburgh mengungkapkan asupan garam yang tinggi bisa memberikan tekanan pada otak.
BACA JUGA: Ampelgading Bakal Jadi Sentra Alpukat, Siap Tanam 18.000 Bibit Unggul
Kondisi tersebut akan mendorong terjadinya peningkatan produksi hormon stres.
Peningkatan produksi hormon stres bisa terjadi karena konsumsi makanan tinggi garam berkaitan dengan aktivasi hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) aksis.
HPA aksis adalah sistem respons stres pada tubuh.
Tim peneliti juga menemukan bahwa pola makan yang tinggi garam dapat meningkatkan glucocorticoids. Glucocorticoids adalah hormon yang muncul secara alami untuk membantu mengatur respons stres dan fungsi metabolik, kardiovaskular, kognitif, juga imun.
Seperti dilansir Medical News Today, kebiasaan menyantap makanan tinggi garam sudah diketahui dapat memberikan efek buruk bagi kesehatan fisik, khususnya kesehatan kardiovaskular dan ginjal.
BACA JUGA: Kabar Gembira, Pemkot Surabaya Mau Gratiskan Air Bersih PDAM Bagi Warga Miskin
Namun, studi terbaru yang dipublikasikan dalam Cardiovascular Research ini mengindikasikan bahwa konsumsi makanan tinggi garam juga bisa mempengaruhi kesehatan mental, yaitu mengubah cara otak dalam menghadapi stres.
"Kita adalah apa yang kita makan, dan memahami bagaimana makanan tinggi garam mengubah kesehatan mental kita merupakan langkah penting dalam memperbaiki kesejahteraan," ungkap ketua tim peneliti dari Centre for Cardiovascular Science di University of Edinburgh, Matthew Bailey PhD.
Meski makanan tinggi garam bisa membawa beragam manfaat kurang baik, kandungan garam yang tinggi bisa ditemukan dengan mudah dalam banyak variasi makanan.
Sebagian di antaranya adalah makanan proses dan mie instan.