PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Di tengah lebatnya hutan tropis Kalimantan, tumbuhlah sejenis tanaman bernama Mitragyna speciosa, atau yang lebih dikenal sebagai kratom.
Bagi sebagian masyarakat pedalaman, kratom bukanlah tanaman asing.
Ia telah lama digunakan sebagai penambah energi untuk menempuh perjalanan jauh dan sebagai pereda nyeri alami.
Namun, siapa sangka, daun yang dijemur dan diseduh layaknya teh ini kini menjadi sorotan nasional dan internasional?
Kratom kini jadi perbincangan hangat.
Bukan hanya karena manfaat herbal yang diklaim banyak orang, tetapi juga karena potensi bahayanya yang disebut-sebut lebih kuat dari morfin.
Video dokumenter pendek dari kanal YouTube Narasi Newsroom membongkar fenomena ini dari berbagai sisi—dari masyarakat yang menggantungkan hidup pada tanaman ini, hingga polemik antara lembaga pemerintah dan riset soal legalitas dan efek sampingnya.
Di wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kratom telah menjadi tumpuan ekonomi ribuan petani.
Daunnya dipetik, dijemur, digiling, lalu diekspor ke berbagai negara, utamanya ke Amerika Serikat.
Baca Juga: Update Perang Dagang AS vs China: Australia Tolak Ajakan China Lawan Tarif Resiprokal Trump
Di sana, kratom dipasarkan sebagai suplemen herbal, dalam bentuk serbuk, kapsul, hingga teh celup. Harganya di pasar ekspor cukup menggiurkan.
"Ini bukan sekadar daun. Ini harapan kami," kata seorang petani lokal dalam video tersebut, sembari menunjukkan tumpukan daun kratom siap jual.
Antara Herbal dan Bahaya Tersembunyi
Namun di balik manfaat ekonominya, kratom menyimpan kontroversi.