PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Menanggapi tren yang berkembang di sosial media tentang metode pembekuan ASI dan mengubahnya menjadi bubuk (freeze-dryed), Satuan Tugas (Satgas) Air susu Ibu Ikatan Dokter Anak Indonesia (ASI IDAI) menyampaikan pesan tentang tujuan, kesesuaian manfaat dan risiko penggunaannya untuk bayi.
Metode freeze-drying atau pengeringan beku ASI menjadi bentuk bubuk (dikenal juga sebagai teknik lyophilization) dilakukan dengan tujuan memperpanjang umur simpan ASI dari semula 6 bulan di dalam freezer menjadi 3 tahun, dengan alasan penghematan ruang penyimpanan ASI, kenyamanan untuk ibu yang sering bepergian dan ingin terus memberikan ASI di luar masa cuti melahirkan.
Ketua Satgas ASI IDAI Dr dr Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, Sp.A (K) menyebutkan, "Proses ini meliputi pembekuan ASI pada suhu ekstrim -50 C selama 3 s/d 5 jam, kemudian mengubah ASI beku menjadi susu bubuk menggunakan teknik sublimasi, yaitu transisi ekstraksi air selama 2 hari langsung dari bentuk padat (es) ke gas (uap air) tanpa fase cair.
Umumnya, 1 liter ASI akan menghasilkan sekitar 140 gram susu bubuk.
Baca Juga: Prediksi Indonesia U-23 vs Guinea U-23: Perebutan Tiket Terakhir ke Olimpiade Paris 2024
Pembekuan ASI yang lazim dilakukan pada praktik rumahan, telah diteliti dapat menimbulkan serangkaian perubahan fisik pada komponen utama ASI seperti pecahnya membran gumpalan lemak dan perubahan misel kasein, penurunan komposisi faktor bioaktif protein seiring lamanya penyimpanan beku.
Dijelaskan Dr dr Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, Sp.A(K), dampak pengeringan beku pada komponen penting ASI saat ini masih belum diketahui.
Proses ini dinyatakan dapat mempertahankan struktur molekul susu, namun mengingat penggunaan suhu tinggi saat proses pengeringan untuk menghilangkan kandungan air, freeze-drying memiliki dampak pada rasa dan kualitas ASI.
“Tanpa bukti penelitian yang memadai, hingga saat ini belum jelas apakah freeze-dryed ASI memiliki rasio protein, lemak, karbohidrat yang tepat sebagai sumber nutrisi penting yang dibutuhkan bayi, berikut zat aktif untuk kekebalan tubuh dan tumbuh kembang bayi,” kata Dr Naomi.
Baca Juga: Vatikan Resmi Rilis Logo dan Moto Kunjungan Paus ke Asia Termasuk Indonesia, Ini Maknanya
Disebutkan, metode freeze-drying juga tidak melalui prosedur pasteurisasi yang bertujuan membunuh bakteri berbahaya.
Dalam hal ini, pasteurisasi sengaja dihindari untuk menjaga probiotik vital yang ada dalam ASI. Dengan demikian maka risiko kontaminasi tetap menjadi ancaman, khususnya pada saat rekonsiliasi penambahan air pada bubuk freeze-dryed ASI sebelum dikonsumsi bayi.
Satgas ASI IDAI juga memberikan catatan khusus mengenai apakah produk freeze-dryed ASI merupakan Raḍāʿah.
Permasalahan ini penting bagi mayoritas umat muslim di Indonesia, mengingat Radha'ah adalah hubungan mahram yang diakibatkan oleh persusuan yang dilakukan oleh seorang perempuan kepada bayi yang bukan anak kandungnya.
Apabila bubuk freeze-dryed ASI dilarutkan kembali dengan air, secara wujud warna serta rasanya kembali menjadi susu, maka berlaku Raḍāʿah bagi semua pihak terkait.
Artikel Terkait
PB IDI, Organisasi Profesi, dan Pemerintah RI Kirimkan Relawan Tenaga Medis untuk Bantu Gempa Turki
PB IDI dan IDAI Mendapat Penghargaan dari BPOM RI
PB IDI Sesalkan Pemberhentian Prof Zainal Muttaqin SpBS(K) dari RS Kariadi Semarang
Dua Dokter Puskesmas Diserang, IDI Kutuk Kekerasan Terhadap Dokter Internship di Lampung Barat
IDI Rayakan Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) dengan Bakti Sosial Medis di 500 Area di Seluruh Indonesia
IDI Serukan Kampanye IDI Untuk Indonesia Dan Dokter Indonesia Untuk Rakyat Indonesia dalam HBDI Ke-115