Saat manusia mengembangkan pertanian dan berkumpul di kota-kota, mereka memperdagangkan barang antara mereka sendiri dan kelompok lain.
Seseorang harus melacak apa yang terjadi di mana dan siapa yang memberikannya.
Simbol -- gambar toples berisi minyak zaitun, misalnya, atau biji-bijian -- adalah cara pertama untuk melakukannya. Simbol menjadi lebih maju dari waktu ke waktu, dan akhirnya budaya mengubah tulisan berbasis simbol menjadi karakter yang mewakili suara.
Dengan karakter ini, orang dapat membuat berbagai kata dan mentransfer informasi yang jauh lebih kompleks kepada siapa saja yang memahaminya.
Cerita lengkapnya (atau cerita penuh seperti yang bisa disusun oleh para ahli) sedikit lebih rumit.
Mesopotamia: antara 3.400 SM dan 3.300 SM
Bentuk tulisan tertua yang kita ketahui saat ini berasal dari Mesopotamia.
Ini adalah bentuk penulisan awal yang paling mudah untuk dipelajari (relatif, setidaknya, karena kita berbicara tentang sampel berusia lebih dari 5.000 tahun) karena orang Sumeria yang tinggal di sana mengukir karakter mereka menjadi tanah liat yang kemudian dipanggang.
Beberapa dari tanah liat itu cukup kuat untuk bertahan hingga hari ini.
Peneliti menyebut tulisan cuneiform, yang berasal dari cuneus, bahasa Latin untuk baji.
Itu mendapat namanya dari irisan yang digunakan untuk menanamkan tanda ke tanah liat.
Pertama, orang Sumeria menggunakan tulisan hanya untuk pencatatan, karena bisnis harus terus berjalan.
Tulisan paling awal berupa pictographs, yaitu gambar-gambar kecil yang mewakili suatu objek, dan angka.
Dengan tulisan seperti ini, orang bisa melakukan hal-hal seperti mencatat penjualan 47 ekor kambing dengan sedikit tanda di tanah liat.
Tanda itu jauh lebih mudah daripada menerima 47 token tanah liat untuk mewakili setiap kambing.