edukasi

Dosen San Agustin Tentang Ekonomi Kalimantan Barat, Peluang UMKM dan Infrastruktur

Sabtu, 21 Desember 2024 | 14:01 WIB
San Agustin

Salah satu tantangan terbesar di Kalimantan Barat, menurut Agusandi, adalah tingginya tingkat pengangguran, terutama di kalangan generasi muda.

"Setiap tahun, ada 1,3 juta penduduk yang tamat sekolah dan siap mencari pekerjaan, tapi setiap 1% pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap sekitar 100.000 tenaga kerja," jelasnya.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya 4,87%, pengangguran tetap menjadi masalah besar, khususnya di kalangan lulusan SMA dan perguruan tinggi.

Agusandi menambahkan, untuk mengatasi pengangguran, Kalimantan Barat perlu menarik lebih banyak investor. Namun, ia mengingatkan, birokrasi yang berbelit-belit sering menjadi hambatan.

"Pemerintah perlu mempermudah prosedur izin untuk investor, sehingga mereka dapat dengan cepat menanamkan modal dan menciptakan lapangan pekerjaan," ungkapnya.

Membangun Infrastruktur untuk Pembangunan yang Merata

Meskipun ada kemajuan dalam beberapa sektor, masih banyak desa di Kalimantan Barat yang terbelakang dalam hal infrastruktur. Agusandi memberi contoh jalan yang sering disebut "aspal bubur" oleh masyarakat, terutama saat musim hujan.

"Infrastruktur yang buruk, seperti jalan yang rusak, menghambat mobilitas dan ekonomi masyarakat. Desa yang masih menghadapi masalah ini tidak bisa dikategorikan sebagai desa mandiri," tegasnya.

Menurut Agusandi, untuk mewujudkan pembangunan yang merata, pemerintah perlu mengutamakan pembangunan infrastruktur yang lebih baik, terutama di daerah-daerah yang tertinggal.

Agusandi menutup wawancara dengan seruan kepada pemerintah dan masyarakat untuk lebih proaktif dalam meningkatkan perekonomian Kalimantan Barat.

"Pemerintah, masyarakat, dan akademisi harus bekerja sama untuk memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar berkontribusi pada pembangunan yang merata," ujarnya.

Perkembangan Kota Pontianak

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya transformasi digital dalam mendukung sektor UMKM. "UMKM adalah salah satu kunci untuk menyerap tenaga kerja dan menstabilkan ekonomi. Namun, banyak pelaku UMKM yang belum memanfaatkan teknologi digital dengan maksimal. Pemerintah harus lebih intens dalam memberikan pembinaan dan fasilitas agar UMKM dapat berkembang lebih pesat," ungkapnya.

Agusandi juga menyoroti perkembangan Kota Pontianak yang menjadi salah satu kota dengan IPM terbaik di Kalimantan Barat.

"Pontianak memiliki IPM sebesar 81%, yang jauh lebih tinggi dibandingkan kabupaten lainnya. Sektor UMKM, terutama kuliner dan warung kopi, menjadi pendorong utama bagi perekonomian kota ini," tambahnya.

Halaman:

Tags

Terkini