edukasi

Pentingkah Pendidikan Politik di Sekolah?

Selasa, 12 Desember 2023 | 17:00 WIB
Pendidikan Politik (PontianakGlobe)

PONTIANAKGLOBE.COM- DI ACARA diskusi dan refleksi bertajuk “Guru dan Pendidikan Politik” yang dilaksanakan Yayasan Cahaya Guru, di Jakarta, Selasa (17/102023), terungkap pandangan generasi muda tentang politik. Generasi muda, khususnya siswa, masih apatis ketika berbicara politik.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Indah Nova Manurung, guru SMA BPK Penabur 8 Jakarta, saat membahas soal politik, misalnya legislatif, langsung ada celetukan siswa yang menganggap koruptor.

Politik masih dilihat kotor. Betapa politik secara substansial memiliki makna dan nilai yang sangat luhur dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara tak berterima. Maka, tak sedikit di antara mereka yang menjadi apolitik. Benarkah politik itu kotor dan kejam?

Mencermati dan merefleksikan fenomena-fenomena di jagat perpolitikan kita hari ini, anggapan siswa bahwa politik itu kotor tak sepenuhnya keliru. Hari ini, politik lebih dimaknai sebagai seni atau ilmu untuk meraih kekuasaan, memperoleh kedudukan, tak peduli bagaimana caranya. Praktik politik hari ini lebih merujuk pada pengertian politik praktis, untuk memperoleh kedudukan dan kekuasaan.

Akibatnya, dalam tataran praktik banyak sekali timbul penyimpangan, tindakan manipulatif dalam rangka merebut kekuasaan dan memperoleh kedudukan itu.

Tak Asing

Sejatinya (kata) politik bukanlah kata yang asing dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tentang politik telah ada sejak manusia mengenal peradaban. Dari sejumlah sumber terungkap politik ibarat sebuah kebutuhan di dalam kehidupan manusia, yang segala sesuatu tidak dapat dipisahkan dengan politik.

Merefleksikan pendapat sejumlah ahli tentang politik, politik merupakan salah satu aktivitas manusia yang terpenting sepanjang sejarah manusia.

Dengan berpolitik, manusia saling mengelola potensi di antara mereka, saling memahami dalam perbedaan yang ada, saling menjaga peraturan yang disepakati bersama.

Dalam politik, ada (masyarakat-rakyat) yang dipimpin, ada yang memimpin. Ada yang memerintah dan ada pula yang diperintah. Semuanya merupakan aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dalam keberadaan dan peradaban manusia. Mengutip Al-Farabi, politik berperan sebagai etika dan swakarsa yang terkait erat dengan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia.

Sejatinya, manusia adalah zoon politikon, mahkluk yang memiliki fitrah politik. Di sini, fitrah politik yang dimaksudkan adalah bagaimana cara antaranggota masyarakat bersinergi untuk mencapai kesejahteraan bersama. Dalam konteks ini, politik sejatinya memiliki makna dan nilai yang sangat luhur dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Meminjam pandangan Frans Magnis Suseno, seorang guru besar filsafat politik menyatakan, politik itu sesungguhnya tidak kotor.

Politik adalah konsensus bermartabat yang dibentuk untuk mengatur masyarakat dengan suatu cara tertentu demi mencapai kebaikan bagi sebanyak-banyaknya orang. Dengan begitu, politik adalah sebuah institusi kebudayaan yang sejatinya bersih dan mulia.

Politik itu sejatinya sarat akan nilai-nilai nan luhur. Merujuk pada pandangan Harold Lasswell (dalam Budiharjo:2003), paling tidak ada delapan nilai yang terkandung dalam politik.

Halaman:

Tags

Terkini