daily-vibes

CEO Promedia Grup: AI Ubah Industri Media, tapi Kebutuhan Informasi Tak Akan Pernah Hilang

Sabtu, 1 Agustus 2026 | 13:05 WIB
CEO Promedia Grup Agus Sulistriyono saat menyampaikan materi tentang tantangan dan peluang industri media di era kecerdasan buatan (AI) dalam workshop JMSI Banyuwangi.

PONTIANAKGLOBE.COM, BANYUWANGI -- Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah wajah industri media. Namun, perubahan tersebut bukan menjadi tanda berakhirnya bisnis informasi. Sebaliknya, perusahaan media dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.

Pandangan itu disampaikan CEO Promedia Grup, Agus Sulistriyono, saat menjadi pemateri dalam workshop bertema "Menakar Peran Media dan Regulator dalam Investasi di Daerah" yang digelar bersamaan dengan pelantikan Pengurus Cabang Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Banyuwangi di Hotel Santika, Kamis (30/7/2026).

Baca Juga: Warga Segel Kantor PLN Palangka Raya, Tebar Bangkai Ayam sebagai Bentuk Protes Pemadaman Listrik

Agus menegaskan, kebutuhan masyarakat terhadap informasi tidak akan pernah hilang. Yang terus berubah hanyalah cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi.

"Informasi akan selalu dibutuhkan. Yang berubah adalah bagaimana masyarakat mengaksesnya," ujarnya.

Menurut Agus, beberapa tahun lalu masyarakat masih mengandalkan portal berita sebagai sumber utama informasi. Kini, kebiasaan tersebut bergeser ke berbagai platform digital, seperti TikTok, Instagram, Facebook, WhatsApp, YouTube, hingga layanan pencarian berbasis AI.

Perubahan perilaku audiens itu, lanjutnya, harus dipahami oleh perusahaan media agar mampu menyusun strategi distribusi konten yang lebih efektif.

Pola Konsumsi Informasi Berubah

Dalam paparannya, Agus menunjukkan bahwa pola konsumsi konten digital telah mengalami perubahan signifikan. Waktu yang dihabiskan masyarakat untuk membaca berita melalui situs web kini cenderung lebih singkat dibandingkan saat mengakses media sosial maupun menikmati konten video.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa industri media harus terus berinovasi agar tetap relevan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan preferensi pembaca.

Agus juga menyoroti pesatnya perkembangan AI yang kini mampu membantu berbagai pekerjaan, mulai dari menyusun tulisan, merangkum informasi, menerjemahkan bahasa, hingga menghasilkan gambar dan video dalam waktu singkat.

Meski demikian, ia menilai AI belum mampu menggantikan aspek-aspek mendasar dalam praktik jurnalistik.

Baca Juga: KPK Tetapkan Anggota Polri sebagai Tersangka Dugaan Pemerasan terhadap Bupati Pemalang, Ini Fakta-faktanya

"Liputan langsung di lapangan, membangun jaringan narasumber, melakukan verifikasi, memahami persoalan lokal, dan menjaga integritas tetap menjadi kekuatan utama jurnalis," katanya.

Ia menambahkan, teknologi seharusnya dipandang sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, bukan sebagai ancaman bagi profesi jurnalis.

Halaman:

Tags

Terkini