PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Bagi sebagian besar orang tua di Pontianak, definisi "kerja beneran" itu masih identik dengan pergi pagi pulang sore pakai seragam kemeja rapi, atau minimal jadi ASN di kantor pemerintahan.
Jadi jangan heran kalau kamu yang seharian cuma mendekam di dalam kamar kos sambil memandangi layar laptop sering dikira sebagai pengangguran oleh tetangga sebelah.
Baca Juga: Tips Sukses Jualan Online Lewat Live Streaming TikTok atau Shopee Buat Pemilik Brand Lokal Kalbar
Padahal, di balik pintu kosan yang tertutup itu, ada fenomena menarik yang sedang digerakkan oleh Gen Z Pontianak: ekonomi kreatif kamar kos.
Lewat jalur remote working alias kerja jarak jauh, banyak anak muda kota khatulistiwa yang kini memutus batasan geografis.
Alih-alih berebut lowongan kerja lokal yang kuotanya terbatas, mereka langsung melompat berburu cuan dalam mata uang dolar dari klien di Amerika, Eropa, hingga Australia.
Modal Internet Cepat vs Lapangan Kerja Global
Fenomena ini tumbuh subur karena Gen Z adalah generasi yang sangat tech-savvy (melek teknologi).
Ditambah lagi, keahlian digital seperti desain grafis, editing video, programming, hingga pengelolaan media sosial kini sangat dicari di pasar internasional.
Bagi seorang freelancer pemula di Pontianak, platform seperti Upwork, Fiverr, atau LinkedIn telah menjadi pintu gerbang utama.
Menariknya, standar tarif jasa di luar negeri yang dihitung per jam jauh lebih tinggi dibanding standar lokal.
Simulasi Sederhana: Jika seorang video editor pemula asal Pontianak mendapatkan proyek mengedit konten TikTok dengan bayaran minimal $15 per jam, dalam 4 jam kerja saja mereka sudah bisa mengantongi $60 (sekitar Rp900 ribuan). Angka yang sangat lumayan untuk ukuran uang jajan mahasiswa, bukan?
Dampak Multiplier bagi Ekonomi Lokal
Kerja remote dengan bayaran dolar ini nyatanya punya multiplier effect yang nyata bagi perputaran uang di Kota Pontianak.
Uang dolar yang didapatkan para kreator digital ini tidak mengendap di bank luar negeri. Uang tersebut dicairkan ke rupiah, lalu dibelanjakan di ekosistem lokal.