Pernyataan keras Purbaya muncul bertepatan dengan insiden kebakaran kilang Pertamina Dumai, Riau, pada 1 Oktober 2025.
Baca Juga: Rezeki Nomplok! Ibu Asal Poso Dapat Rp1 Miliar dari Yamaha Gara-Gara Setia Pakai Mio M3
Insiden itu dianggap sebagian kalangan sebagai simbol lemahnya tata kelola dan investasi sektor hilir migas nasional.
Respons Pemerintah dan Pertamina
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta publik tidak menilai persoalan ini secara sepotong.
Ia memastikan pemerintah tetap mengawal proyek-proyek besar, terutama Kilang Balikpapan dan Tuban.
“Progres Kilang Balikpapan sudah 96,5 persen dan masuk tahap commissioning. Ini bukti pemerintah tetap bekerja,” kata Bahlil dikutip dari Bloomberg Technoz.
Sementara Pertamina Patra Niaga menyebut pembangunan kilang memerlukan waktu panjang dan dana besar. Karena itu, perusahaan harus berhati-hati agar tidak menimbulkan risiko keuangan baru bagi negara.
Namun, kritik publik tetap bergema.
Baca Juga: Rezeki Nomplok! Ibu Asal Poso Dapat Rp1 Miliar dari Yamaha Gara-Gara Setia Pakai Mio M3
Jurnalis energi senior Muhammad Al Azhari menilai lambannya realisasi kilang menunjukkan lemahnya visi industri hilir migas Indonesia.
“Selama dua dekade kita bicara kemandirian energi, tapi tanpa kilang baru, itu cuma jadi slogan,” ujarnya kepada Jaringan Promedia, Selasa (7/10/2025).
Ketiadaan kilang baru berpotensi menimbulkan dua risiko besar: defisit pasokan dan ketergantungan impor.
Saat harga minyak global melonjak, beban subsidi akan menggerus APBN dan memicu tekanan inflasi domestik.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, dalam Indonesia Energy Transition Outlook 2024, memperkirakan defisit pasokan BBM bisa mencapai 300 ribu barel per hari pada 2030 jika proyek kilang kembali tertunda.