PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah SPBU swasta masih terus terjadi, meski pasokan kargo impor telah tiba di Indonesia. Kondisi ini membuat pelayanan kepada masyarakat terganggu, sementara pihak SPBU swasta memilih mundur dari kerja sama dengan Pertamina.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa pihaknya tidak mengambil keuntungan dari situasi tersebut.
“Pertamina tidak memanfaatkan keadaan ini. Kami juga tidak mencari keuntungan,” ujarnya kepada awak media di kawasan Sarinah, Jakarta, Selasa, 7/10/2025.
Baca Juga: Anggaran Dipotong, Gubernur Ngamuk! 18 Kepala Daerah Kepung Kantor Menkeu Purbaya
Simon menambahkan bahwa pintu negosiasi tetap terbuka antara Pertamina dan pihak SPBU swasta. Menurutnya, kedua belah pihak telah sepakat untuk melakukan sistem open book agar harga BBM di masyarakat tidak mengalami kenaikan.
“Pembicaraan masih terus berjalan. Kita sama-sama terbuka dan ingin memastikan harga di masyarakat tetap stabil,” jelasnya.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar, mengungkapkan alasan di balik batalnya kerja sama tersebut. Ia menyebut SPBU swasta seperti VIVO dan APR mengundurkan diri karena perbedaan teknis terkait kandungan etanol dalam base fuel milik Pertamina.
“VIVO sempat menyetujui pembelian 40 ribu barel, tapi akhirnya membatalkan. Begitu juga dengan APR,” ujarnya dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI, (1/10/2025).
Achmad menjelaskan, bahan bakar Pertamina mengandung sekitar 3,5 persen etanol sehingga angka tersebut masih jauh di bawah batas regulasi sebesar 20 persen.
“Kandungan etanol itu sebenarnya aman, tapi pihak SPBU swasta memutuskan tidak melanjutkan pembelian karena faktor tersebut,” katanya.
Sementara itu, Shell Indonesia disebut memiliki alasan internal tersendiri yang membuat mereka batal membeli BBM dari Pertamina.
Baca Juga: Garuda vs Wasit? Kenangan Kontroversial Ahmad Al Ali Bayangi Laga Indonesia di Round 4
Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah sudah memberikan kelonggaran kepada SPBU swasta. Tahun 2025, kuota impor BBM bahkan meningkat menjadi 110 persen dari tahun sebelumnya.
“Kuota itu sudah diberikan normal, tapi ternyata habis sebelum akhir tahun. Karena itu, pemerintah membuka opsi kolaborasi dengan Pertamina,” jelas Bahlil di Jakarta, (19/09/2025).
Dengan adanya tambahan kuota dan kesempatan kolaborasi, seharusnya tidak terjadi kelangkaan di lapangan. Namun mundurnya sejumlah SPBU swasta dari kerja sama membuat distribusi BBM terganggu dan stok di beberapa wilayah menipis.***
Artikel Terkait
3 Sorotan Menteri Bahlil soal Dugaan Pertamax Oplosan, Usul Proyek BBM ke Prabowo
‘Saudagar Minyak’ Riza Chalid Tersangka Korupsi BBM Rp193,7 Triliun, Rumahnya Digeledah!
BBM Non-Subsidi Langka di SPBU Swasta, Ini Penjelasan Wamen ESDM
BBM Langka di SPBU Swasta, Pemerintah Terapkan Skema Darurat Bersama Pertamina
Pemerintah Dorong SPBU Swasta Kolaborasi dengan Pertamina Atasi Kekosongan BBM
SPBU Swasta Batal Beli BBM dari Pertamina, Kandungan Etanol Jadi Alasan Utama