"Kalau kita tetap ngotot pakai data BPS, seolah-olah kita selalu menjadi pemenang. Padahal kriteria BPS berbeda dengan Bank Dunia," katanya.
Baca Juga: Resmi Diluncurkan di Amerika Serikat! Satelit Nusantara Lima Jadi Harapan Baru Internet Indonesia
Selain metode, Ferry menyoroti perbedaan kondisi geografis dan sosial antara desa dan kota di Indonesia.
Di peRdesaan, warga mungkin bisa bertahan hidup dengan Rp20.000 per hari, sementara di perkotaan angka tersebut tidak mencukupi.
"Konsumsi di desa berbeda dengan di Jakarta. Karena mayoritas penduduk masih tinggal di desa, sementara urbanisasi dan industrialisasi belum berhasil, hasil pengukuran menjadi timpang," jelas Ferry.
Ferry mencontohkan keberhasilan China yang mendorong urbanisasi dan industrialisasi, sehingga pengukuran kemiskinan di negara itu lebih sesuai standar internasional.
"Di China urbanisasi luar biasa, industrilisasinya juga berhasil. Di Indonesia, karena mayoritas penduduk masih di pedesaan dan urbanisasi belum maksimal, hasilnya seperti ini," pungkas Ferry. ***