wisata

Kisah Para Perajin Kain Tenun Toleransi di Pontianak Bangkit dan Bertumbuh Pasca Pandemi (Edisi 1)

Jumat, 24 Maret 2023 | 22:28 WIB
Keterangan foto 1: Dua perajin di Kampung Tenun Khatulistiwa sedang memproses benang-benang menjadi kain tenun. (Sumber foto: Yanuarius Viodeogo Seno/Pontianak Globe)

 

PONTIANAKGLOBE – Berkat kain tenun songket Sambas, nama Kampung Tenun Khatulistiwa (Kanun) kian dikenal luas dan berdampak terhadap ekonomi warga setempat. Memori sedih di dalam diri perajin akibat konflik sosial di Sambas pada pada 1999 silam pun terobati.

Kurniati, pemilik galeri rumah tenun di Gang Sambas Mandiri atau Kampung Tenun Khatulistiwa (Kanun) Pontianak sesekali mengamati dua karyawannya Nursiah dan Aisyah memproses helai demi helai benang lungsin ke gedogan atau suri (alat tenun dari kayu) untuk menciptakan hasil akhir kain tenun songket.

Tak…tak…tak.

Suara khas yang berulang kali keluar dari benturan kayu tenun supaya benang-benang tersusun satu sama lain. Dengan tangan lincah mereka, sejurus kemudian gumpalan-gumpalan benang menjadi rapi lurus dan siap ditenun.

Sering kali benang putus, perajin harus menyambung kembali. Tak jarang benang kusut, sehingga membuat proses menenun berhenti dan harus diperbaiki. 

Baca: Kampung Tenun Bersolek, Simpul Destinasi Wisata Alternatif Pontianak (Edisi ke-2)

Bagi masyarakat awam melihat benang kusut tersebut mungkin pusing. Namun bagi perajin, hanya butuh beberapa menit diperbaiki, benang kusut itu jadi rapi kembali.

Workshop tenun itu sekaligus rumah bagi Kurniati. Lokasinya berada di tengah-tengah gang di kawasan seluas 14 Hektare (Ha) yang terbagi atas 3 kluster atau zona kerajinan. Zona belakang kelompok perajin tenun dan penjahit, zona tengah perajin batok kelapa, manik-manik dan aksesoris, dan zona depan dekat gang pintu masuk Kanun adalah untuk kuliner.

Dalam workshop, terdapat lima alat tenun yang semua berfungsi dengan baik. Dua alat tenun yang telah terpasang benang, harus segera diselesaikan jadi kain. Alat-alat tenun itu merupakan bantuan dari sejumlah institusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perbankan.

Baca: Tak Hanya Kain Tenun, Kanun Juga Punya Beragam Potensi Tarik Minat Pembeli (Edisi ke-3 Selesai)

Sembari memperhatikan karyawannya bekerja, perempuan 45 tahun yang dipanggil Makcik oleh warga Kanun itu tampak sibuk. Sebutan Makcik biasanya panggilan kepada kakak perempuan yang dituakan bagi Melayu Sambas. Meskipun Kurniati asli suku Madura tetapi panggilan Makcik buat dirinya merupakan hal lumrah.

Saat Pontianak Globe menemuinya akhir Februari lalu, Kurniati tidak turun tangan untuk menenun langsung. Dia hanya sesekali memantau pekerjaan karyawannya.

Kedua jari Kurniati membuka pesan masuk ke handphone-nya. Pesan itu mengabarkan akan hadir perwakilan pegawai dari salah satu BUMN ke galerinya. Mereka berkoordinasi dengan Kurniati untuk mempersiapkan kehadiran rombongan istri direksi BUMN tersebut.

Setelah pandemi Covid-19 usai, jumlah kunjungan tamu ke galer Kurniati kembali ramai. Tamu dari berbagai penjuru berkunjung ke galerinya. Dari pejabat kementerian hingga pemerintah daerah, instansi BUMN hingga swasta. Mereka ingin membeli kain tenun berbagai motif buatan tangan terampil perajin Kanun.

Namun saat masa Pandemi Covid-19, penjualan kain tenun songket dari Kanun turun drastis. Bahkan sejak pertengahan hingga akhir 2020, tidak ada pesanan sama sekali. Penjualan kain tenun Kanun sangat tergantung dari pesanan wisatawan dari luar Kalimantan Barat. 

Selama pintu Bandar Udara Internasional Supadio Pontianak tertutup, maka selama itu pula penghasilan produk Kanun seret. Padahal, lokasi Kanun masih di dalam seputaran Kota Pontianak.

Tidak jauh dari Kanun, sekitar 2,9 kilometer terdapat Tugu Khatulistiwa, penanda titik nol derajat khatulistiwa Indonesia. Sebuah ikon identitas Kota Pontianak. Begitu pula tidak jauh dari sana, ada Kerajaan Sultan Kadriyah tempat asal muasal Kota Pontianak berdiri. Semua sepi akibat pandemi Covid-19.

Namun, kini perlahan situasi berangsur pulih. Kurniati dan penenun lain tidak patah semangat. Bagi mereka, tidak ada pembeli selama Covid-19 bukan berarti lonceng kematian bagi usaha tenung songket Sambas. Dari jumlah total 52 penenun Kanun, 17 di antaranya ialah penenun aktif. Mereka yakin usahanya akan kembali ramai pasca pandemi.

Kini, Kurniati, Aisyah dan Nursiah dan perajin tenun di Kanun kembali aktif memproduksi kain yang pernah dinobatkan oleh Unesco tersebut sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) 2013. Pembeli kain tenun Sambas tidak hanya dari dalam negeri, namun juga luar negeri. Pada September 2022 lalu, kain tenun Kanun sempat dipasarkan di Belanda.

Para perajin Kanun merupakan satu dari ribuan pelaku UMKM di Kota Pontianak yang mampu bertahan dan tumbuh di tengah tekanan pandemi Covid-19. Kota Pontianak diuntungkan secara geografis dan dekat dengan kawasan pusat pemerintah provinsi.

Selain itu, Kota Pontianak adalah pintu gerbang masuk dan keluar penerbangan dari bandar udara internasional Supadio dan pelabuhan internasional Dwikora. Maka tidak heran di sini banyak industri kreatif UMKM yang berkembang.

Sebut saja selain fesyen, ada kuliner, agrobisnis, otomotif, internet counter, BBM dan Elpiji, perdagangan sembako dan kelontong, home industry, bangunan, laundry atau jasa cuci pakaian dan lainnya.

Tabel: Jumlah pelaku UMKM di Kalbar 

Tabel: Jumlah pelaku UMKM di Kalbar

Tags

Terkini