ragam

Asal usul Lagu Silent Night yang Sederhana. Selalu Dinyanyikan saat Masa Natal. Bahkan Perang pun Berhenti

Jumat, 16 Desember 2022 | 17:05 WIB
Pemandangan kota Salzburg dan sungai Salzach. (Uwe Schwarzbach/flickr, CC BY-NC-SA)

PONTIANAKGLOBE.COM -- Selama berabad-abad, ratusan lagu Natal telah disusun. Banyak yang kemudian hilang dengan cepat dak tak terdendar lagi.

Silent Night atau dalam Bahasa Indonesia juga dikenal dengan Malam Kudus, sudah diterjemahkan setidaknya ke dalam 300 bahasa.

Lagu Silent Night ditetapkan oleh UNESCO sebagai barang berharga dari Warisan Budaya Takbenda, dan diaransemen dalam lusinan gaya musik yang berbeda, dari heavy metal hingga gospel, Silent Night telah menjadi bagian abadi dari tata suara Natal.

Asal-usulnya -- di sebuah kota kecil Alpen di pedesaan Austria -- jauh lebih rendah hati.

Lirik lagu tersebut awalnya ditulis dalam bahasa Jerman tepat setelah berakhirnya Perang Napoleon oleh seorang pastor muda Austria bernama Joseph Mohr.

Pada musim gugur tahun 1816, jemaat Mohr di kota Mariapfarr terguncang.

Dua belas tahun perang telah menghancurkan infrastruktur politik dan sosial negara.

Sementara itu, tahun sebelumnya -- seorang sejarawan kemudian menjuluki The Year Without a Summer - sangat dingin.

Letusan Gunung Tambora di Indonesia pada tahun 1815 telah menyebabkan perubahan iklim yang meluas di seluruh Eropa.

Abu vulkanik di atmosfer menyebabkan badai yang hampir terus-menerus --bahkan salju -- di tengah musim panas.

Panen gagal dan terjadi kelaparan yang meluas.

Jemaat Mohr dilanda kemiskinan, lapar dan trauma.

Maka ia mengarang enam syair puitis untuk menyampaikan harapan bahwa masih ada Tuhan yang peduli.

"Malam yang sunyi," kata versi Jerman, "hari ini semua kekuatan cinta kebapakan dicurahkan, dan Yesus sebagai saudara merangkul orang-orang di dunia."

 

Halaman:

Tags

Terkini