ragam

Apa itu Persit atau Persatuan Istri Tentara ? Calon Istri TNI AD Wajib Tahu Sejarah Persit Nih

Minggu, 27 Agustus 2023 | 14:07 WIB
Logo Persit Kartika Chandra Kirana (Dok. Denhubrem 142)

Prajurit yang dirawat sangat membutuhkan dorongan moril. Kenyataan inilah ditambah dengan rasa kemanusiaan dan sifat keibuan telah menimbulkan inisiatif di hati Ny. Ratu Aminah Hidayat (isteri dari Kolonel Hidayat, Kepala Staf Komandemen l) untuk mengumpulkan para istri perwira Markas Komandemen I di kediamannya.

 Kediaman Kolonel Hidayat waktu itu terletak dekat sebuah danau kecil di daerah Purwakarta, Dalam pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 3 April 1946 tersebut dihadiri oleh 4 orang rekannya yaitu Ny. Sumarna, Ny. Achmad sukarnawijaya, Ny Dana Kusumah dan Ny. Gerda Mokoginta.

Pada kesempatan itu, lbu Ratu Aminah Hidayat mengutarakan pemikiran dan hasratnya untuk menggerakkan para lsteri Prajurit melakukan sesuatu guna membantu prajurit di dalam melaksanakan tugasnya.

Dalam pertemuan tersebut belum ditentukan siapa yang menjadi ketua, sekretaris, bendahara dan lainnya sebagaimana lazimnya pembentukan suatu organisasi.

Namun sejak itulah para istri prajurit yang berdomisili di Purwakarta mulai memikirkan untuk membentuk suatu wadah bagi kelompok istri prajurit yang kemudian dinamakan Persatuan Kaum lbu Tentara (PKlT) yang adalah cikal bakal Persit Kartika Chandra Kirana.

Pada waktu yang hampir bersamaan, di Purwokerto, Jawa Tengah lahir pun organisasi Persatuan lstri Tentara yang diketuai oleh Ny. Soehardi. Demikian juga di Malang, organisasi yang sama lahir dan diketuai oleh Ny. SR. Lasmindar.

Dalam periode 1947 kegiatan para istri prajurit semakin meluas. Hal itu terjadi karena adanya gerakan-gerakan pihak lawan yang terus-menerus mengadakan serangan terhadap perjuangan Republik lndonesia.

Para istri prajurit melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, di samping menjahit dan membuat tanda-tanda pangkat pejuang, mereka melakukan kegiatan sebagai juru rawat dalam Palang Merah lndonesia.

Para istri prajurit memberikan perawatan dan pertolongan kepada pejuang yang luka atau gugur di medan bakti.

Selain itu, ada juga yang mendapat tugas menyelidiki kekuatan dan lokasi musuh, suatu tugas yang tidak ringan dan penuh dengan resiko tertangkap oleh pihak lawan.

Dalam periode ini, pimpinan organisasi istri prajurit di daerah Aceh dipimpin oleh Ny. Salamah Hussein Yusuf, Ny. Cut Anjung, Ny. Husin Setia, dan Ny. Bachtiar Sabirin.

Untuk menghadapi tantangan perjuangan yang semakin berat, maka pada tanggal 15 Agustus 1946 PKIT mengadakan konferensi di Garut, Jawa Barat guna mempersatukan organisasi-organisasi istri tentara yang ada di daerah-daerah.

Dalam konferensi tersebut dibahas masalah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

Saran dari utusan Banjar Ny. Hamara Effendi tentang perubahan nama organisasi yang semula PKIT diubah menjadi Persatuan lstri Tentara (Persit).

Selanjutnya kegiatan Persit semakin meningkat seiring dengan perkembangan organisasi TNI AD.

Halaman:

Tags

Terkini