pontianak-insights

STAKAT Negeri Pontianak dan Paroki Santa Sesilia Tanam 1.000 Pohon di Rumah Pelangi, Wujudkan Semangat Ekoteologi dan Fransiskan

Kamis, 2 Juli 2026 | 16:58 WIB
Dok. Sekitar 230 peserta dari Paroki Santa Sesilia Pontianak, STAKat Negeri Pontianak, STIKES Panca Bhakti, dan Politeknik Tonggak Equator berfoto bersama sebelum aksi penanaman pohon di Rumah Pelangi, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (27/6/2026). (Dok. Panitia PKM)

PONTIANAKGLOBE.COM, Kubu Raya | Di tengah meningkatnya ancaman kerusakan hutan di Kalimantan Barat, sebanyak 230 peserta dari berbagai lembaga pendidikan dan komunitas Gereja bergotong royong menanam 1.000 bibit pohon di kawasan konservasi Rumah Pelangi, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (27/6/2026).

Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKAT) Negeri Pontianak dan Paroki Santa Sesilia Pontianak dalam mengimplementasikan program ekoteologi sekaligus menyemarakkan Yubileum Santo Fransiskus Assisi.

Peserta yang terlibat berasal dari sivitas akademika STAKAT Negeri Pontianak, umat Paroki Santa Sesilia Pontianak, STIKES Panca Bhakti, serta Politeknik Tonggak Equator (POLTEQ). Mereka bersama-sama melakukan penanaman pohon di kawasan perbukitan dan lahan rawa Rumah Pelangi sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.

Ketua STAKAT Negeri Pontianak, Dr. Sunarso, S.T., M.Eng., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang sejalan dengan prioritas program ekoteologi Kementerian Agama. Menurutnya, kegiatan ini juga memiliki makna khusus karena bertepatan dengan rangkaian peringatan Yubileum Santo Fransiskus Assisi yang diinisiasi Paroki Santa Sesilia Pontianak.

"Program ekoteologi merupakan salah satu program prioritas Kementerian Agama. Kegiatan ini kami wujudkan melalui aksi nyata bersama masyarakat. Momentum ini juga selaras dengan semangat Yubileum Santo Fransiskus Assisi yang mengajarkan kita untuk mencintai dan memelihara lingkungan sebagai sesama ciptaan Tuhan," ujar Sunarso.

Ia menambahkan, pengabdian kepada masyarakat tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan akademik semata, tetapi harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

Rumah Pelangi Dipilih karena Nilai Historis

Rumah Pelangi dipilih sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Kawasan konservasi seluas sekitar 108 hektare tersebut dirintis sejak awal tahun 2000-an oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap. sebagai respons atas kerusakan hutan di Kalimantan Barat.

Berawal dari lahan yang gersang, kawasan tersebut kini berkembang menjadi hutan konservasi yang dimanfaatkan sebagai pusat pembelajaran lingkungan, rehabilitasi lahan gambut, sekaligus destinasi wisata berbasis konservasi.

Pengelola Rumah Pelangi, RP. Ignatius Michael Warsito, OFMCap., mengatakan pengalaman belajar di alam memberikan dampak yang jauh lebih kuat dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di ruang kelas.

"Di Rumah Pelangi, peserta tidak hanya belajar tentang lingkungan. Mereka belajar langsung dari alam. Ketika tangan menyentuh tanah, menanam bibit, dan melihat proses pemulihan lahan gambut, di situlah kesadaran ekologis mulai tumbuh," katanya.

PKM Tidak Boleh Sekadar Seremonial

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) STAKAT Negeri Pontianak, Martinus, S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa kegiatan pengabdian harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk isu kerusakan lingkungan.

Menurut Martinus, tahun ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya program PKM institusi diwujudkan melalui aksi penghijauan.

Halaman:

Tags

Terkini

HP Dorong Visi Future of Work di HP Elevate 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 23:27 WIB