"Tahun ini menjadi momentum yang istimewa karena untuk pertama kalinya PKM lembaga diwujudkan melalui aksi penanaman pohon. Ini bukan sekadar kegiatan simbolis, tetapi bentuk komitmen kami mendukung semangat ekoteologi yang sedang didorong Kementerian Agama sekaligus menghidupi spiritualitas Santo Fransiskus Assisi," ujarnya.
Merawat Bumi adalah Wujud Iman
Senada dengan itu, Pastor Paroki Santa Sesilia Pontianak, RP. Fransiskus Yosnianto, OFMCap., menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan iman umat Kristiani.
Menurutnya, mencintai Sang Pencipta harus diwujudkan melalui penghormatan terhadap seluruh ciptaan.
"Merawat bumi bukan pilihan tambahan bagi orang beriman. Itu adalah konsekuensi dari iman kita sendiri. Mencintai Sang Pencipta berarti juga menghormati ciptaan-Nya," tegasnya.
Refleksi Ekologis Sebelum Menanam
Sebelum aksi penanaman dimulai, seluruh peserta mengikuti seminar mengenai keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan yang dibawakan Ketua Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) Kapusin, RP. Pionius Hendi, OFMCap.
Berbeda dari seminar pada umumnya, Pionius membuka sesi refleksi dengan membawa sebuah bibit pohon kecil ke hadapan peserta.
Ia mengajak seluruh peserta melihat bahwa perubahan besar selalu berawal dari sesuatu yang sederhana.
"Jangan pernah meremehkan sesuatu yang kecil. Hari ini kita melihat sebatang bibit. Beberapa tahun lagi, pohon inilah yang menghasilkan oksigen, menyimpan air, menjadi rumah bagi burung, dan memberi kehidupan bagi banyak makhluk," katanya.
Gotong Royong Menanam 1.000 Bibit
Usai seminar, peserta dibagi ke dalam 20 kelompok untuk menuju titik-titik penanaman di kawasan konservasi Rumah Pelangi.
Bibit yang ditanam terdiri atas durian, petai, jengkol, dan pinang. Para peserta menyusuri jalur konservasi, melintasi titian kayu di atas lahan rawa gambut, hingga mendaki kawasan perbukitan untuk mencapai lokasi penanaman.
Suasana gotong royong tampak sepanjang kegiatan. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, umat, dan para pendamping saling membantu menggali lubang, menanam bibit, hingga menimbunnya kembali dengan tanah.
Meski sebagian peserta harus berjibaku dengan lumpur gambut dan medan yang cukup menantang, semangat mereka tetap tinggi hingga seluruh rangkaian penanaman selesai.