Masih teringat pesan dari mamak di kampung saat awal kuliah dulu—bahwa anaknya harus lulus sarjana demi perubahan hidup dan masa depan keluarga. Setelah lulus, diharapkan bisa menjadi contoh bagi adik-adik dan membanggakan kampung halaman.
Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telinga, menjadi bahan bakar semangat untuk terus bertahan dan menyelesaikan studi.
Tak sedikit teman yang tampak tak peduli dengan tugas akhir, mungkin mereka lupa pada harapan orang tua yang penuh doa.
Bisa jadi mereka menganggap kuliah hanya tempat bercanda, bersenang-senang, tanpa kesadaran akan tanggung jawab.
Bertahan sendiri di tanah rantau tanpa sanak saudara membuat perjuangan terasa lebih berat—tapi itulah risiko yang harus diterima.
Perjuangan ini memang tidak mudah.
Namun, tetap harus dijalani dengan disiplin dan mengikuti aturan yang ada.
Sarjana yang ingin diraih bukanlah "S.Pd" sebagai singkatan dari "Sarjana Pemberian Dosen", seperti guyonan sebagian orang, melainkan gelar pendidikan yang dicapai lewat kerja keras dan pengorbanan.
Air mata sering kali tumpah saat seminar proposal, apalagi ketika tak mampu menjawab pertanyaan dosen penguji.
Tak jarang, mereka bertanya kenapa masih bertahan sejauh ini.
Dengan mata memerah dan suara tersedu, jawaban yang keluar adalah: demi ayah dan ibu di kampung.
Bagi yang sudah menikah, demi anak dan istri. Ada juga yang mempersembahkan perjuangannya untuk ayah yang telah tiada, demi melihat senyum ibunda tercinta.
Motivasi-motivasi inilah yang menjadi penyemangat, bukti bahwa dengan keteguhan hati dan konsistensi, semua rintangan bisa diatasi.
Kesulitan bukanlah alasan untuk menyerah, dan dosen bukan musuh, melainkan bagian dari proses belajar.
Setelah lulus, masih banyak tantangan lain yang akan datang, terutama dalam mencari pekerjaan.