Ketika Ancika membela teman-teman lesnya dari interogasi Dilan dan teman-temannya, dia tidak menyadari bahwa Dilan adalah teman saudaranya, Mang Anwar (Dito Darmawan).
Ancika mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap Dilan kepada Mang Anwar, yang heran dengan sikapnya.
Baca Juga: Sinopsis Film The A Team Tahun 2010. Generasi 1980-an Wajib Baca Sebelum Nonton Netflix
Mang Anwar memberitahu Ancika bahwa Dilan adalah sosok pintar yang berhasil masuk Institut Teknologi Bandung (ITB).
Ancika awalnya ragu dan meragukan prestasi Dilan, menganggapnya sebagai hasil sogokan untuk masuk ITB.
Namun, pertemuan antara Dilan dan Ancika terus berlanjut dalam berbagai kesempatan.
Ketertarikan Ancika pada kepintaran Dilan mendorong Mang Anwar untuk menyarankan agar Ancika dibantu oleh Dilan untuk membuat resensi buku.
Meskipun sesi itu tidak berjalan mulus dan Dilan sengaja membuat resensi asal-asalan, Ancika mulai merasakan pendekatan perlahan namun pasti dari Dilan.
Ketika hati Ancika mulai tergerak, ia dihadapkan pada ketidakpastian karena masa lalu Dilan dengan Milea yang menjadi legenda di Bandung.
Namun, berbeda dengan tiga film sebelumnya yang melibatkan Pidi Baiq sebagai sutradara dan penulis, dalam Ancika: Dia yang Bersamaku 1995, Pidi Baiq hanya berperan sebagai pengawas kreatif.
Sementara naskah film ini ditulis oleh Tubagus Deddy dengan bantuan Benni Setiawan, yang juga menjabat sebagai sutradara.
Film ini menjadi bagian dari semesta Dilan yang berasal dari studio berbeda dari trilogi asli Dilan.
Meskipun berbeda studio dan pemain utama, film ini masih mempertahankan beberapa pemain dari trilogi sebelumnya. ***