PONTIANAKGLOBE.COM -- Bagi sebagian masyarakat Indonesia, belum makan jika belum makan nasi.
Memang nasi sudah menjadi bahan makanan pokok di Indonesia.
Nasi mengalahkan makanan pokok lainnya seperti umbi-umbian umpamanya ubi kayu, talas, ubi rambat dan lainnya. Maupun sagu seperti di kawasan timur Indonesia.
Sebuah laporan yang mempelajari kebiasaan makan dan riwayat kesehatan orang Iran menemukan risiko penyakit arteri koroner prematur (PCAD) dari makan nasi putih mirip dengan konsumsi gula dan minyak tidak sehat yang ditemukan dalam makanan manis.
Studi ini meneliti sekitar 2.500 orang, beberapa dengan arteri normal dan sisanya mengidap penyakit arteri koroner.
BACA JUGA: Segera Update WhatsApp Kamu. Ini Dia Keuntungan yang Bisa Kamu Dapat
Setiap peserta menjawab kuesioner frekuensi makanan untuk menentukan seberapa sering mereka makan biji-bijian utuh dan olahan.
Seperti dilansir dari laman New York Post, Sabtu, 19 November 2022, para peneliti menemukan bahwa asupan biji-bijian olahan yang lebih tinggi berkorelasi dengan peningkatan risiko PCAD, sementara makan biji-bijian dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit tersebut.
Biji-bijian yang diproses menjadi tepung atau makanan, yang memberi tekstur lebih halus dan umur simpan lebih lama.
BACA JUGA: Daftar Skuad Perancis Untuk Piala Dunia 2022, Akankah Menjadi Juara Bertahan?
Namun, proses itu sekaligus menghilangkan beberapa nutrisi penting.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa biji-bijian utuh, seperti oat beras merah dan roti gandum, mengandung seluruh manfaat baik biji-bijian.
"Ada banyak faktor yang terlibat mengapa orang mungkin mengonsumsi lebih banyak biji-bijian olahan dibanding biji-bijian utuh. Beberapa faktor terpenting yang perlu dipertimbangkan termasuk ekonomi dan pendapatan, pekerjaan, pendidikan, budaya, usia, dan faktor serupa lainnya," ungkap penulis utama studi, Dr. Mohammad Amin Khajavi Gaskarei.
BACA JUGA: Daftar Skuad Australia Di Qatar Piala Dunia 2022, Strikernya Ada Yang Cedera
"Diet yang mencakup konsumsi biji-bijian tidak sehat dan olahan dalam jumlah tinggi dapat dianggap sama dengan mengonsumsi makanan yang mengandung banyak gula dan minyak tidak sehat," sambungnya.